Ketika Orang Awam Memandang Politik (antara PKS, Golkar, PD)

Angket mafia pajak baru saja berakhir dengan kekalahan 2 suara penyeruak angket yang di gawangi FPKS dan FGolkar serta Fraksi Partai Oposisi dari FPD dkk di tambah F gerindra. Pasca Sidang Paripurna itu banyak komentar mengenai Koalisi dan Setgab. Komentar2 itu bertutur tak karuhan melintas tak tentu arah baik dari Tokoh partai Koalisi atau pengamat politik, bahkan menjadi Headline ramai di Media Nasional bahkan Lokal. Setelah Angket century lalu menghempaskan Demokrat di DPR dengan tumbangnya mayoritas, berita mengenai pecahnya koalisi mulai santer. Borok hubungan di antara koalisi mulai berhembus pengap. Apalagi terpilihnya Abu Rizal Bakrie sebagai ketua setgab dengan pemilihan langsung sang presiden membuat partai koalisi lain merasa di abaikan perannya. Si anak bandel PKS pun mulai bermanuver. Di tambah Golkar yang kenyang akan asam garam politik di Indonesia mulai menggunting dalam lipatan. Puncaknya adalah ketika hak angket mafia pajak bergulir 2 partai ini membelot, berselingkuh menyuarakan sesuatu yang benar. Dan mencoba menangkap aspirasi Masyarakat karena kejenuhan tingkat tinggi di mata masyarakat memandang Perpajakan di Indonesia. FPKS berkelit ingin membenahi pengaturan pajak di Indonesia yang image-nya di mata masyarakat sudah jatuh ke titik nadzir gara2 Gayus Tambunan, sang problem maker. Parta Golkar juga punya tujuan menyelamatkan ketua umumnya Abu Rizal Bakrie yg di tengarai terlibat dalam kongkalikong karena perusahaannya Bumi Resources dan beberapa perusahaan lainnya termasuk pasien perusahaan Gayus.

Ada empat partai yang mendukung hak angket mafia pajak: PDIP, Partai Golkar, PKS dan Hanura.  Dari keempat partai itu, keberadaan PKS bagi saya sangat menarik di cermati mengapa? PKS sebagai Partai Islam terbesar sangat mungkin terdepak dari arena koalisi ketimbang Golkar. Jika Partai dengan 57 Kursi di DPR ini dikeluarkan, memang tidak terlalu berefek besar, apalagi Gerindra tampaknya akan tergiur dengan permen kekuasaan dan siap menggantikan PKS. Lain jika Golkar yang dikeluarkan. Kekuatan Golkar di Parleman termasuk dominan, PD akan berpikir ribuan kali ketika mengeluarkan Golkar apalagi PDI-P juga belum tentu mau masuk ke Istana bercumbu rayu dengan Demokrat kalau Megawati masih bercokol di PDI-P. Posisi Megawati masih mengakar kuat di internal Banteng Moncong Putih, ketimbang peran suaminya Taufiq Kiemas yang terkesan sangat mesra dengan SBY.

Pertanyaan besar yang mungkin muncul kenapa PKS berani mengambil langkah maut ini, menentang PD, mengambil jalan berlawanan dg  partai penguasa? Menurut saya di Kalangan internal PKS kekuasaan bukanlah Tujuan. Partai yang terkenal dengan kawula mudanya itu yang berjibun memang sangat idealis. Ketimbang mementingkan kekuasaan dengan menemani dan meng-iya-kan Demokrat dengan menutup maslah pajak, PKS lebih merasakan bagaimana keluhan di khalayak umum mengenai perpajakan indonesia. Bahkan orang No. 1 di PKS KH. Hilmi Aminuddin mengatakan di sela2 mukernas “PKS akan selalu Istiqomah memperjuangkan kebenaran, apapun resikonya”. Lanjut Hilmi, “Berjuang untuk kepentingan negara tidak mesti di dalam pemerintahan. Jadi tidak ada soal bagi kami,” cetusnya kepada wartwan inilah.com melalui saluran telepon, Rabu (23/2/2011). Jadi keputusan ini sudah sangat dipikirkan internal PKS. Mengambil jalan maut ini sudah terbayang resiko terburuk, ketika SBY memutus koalisi nanti.

Sikap PKS dalam memperjuangkan Angket pajak jelas “Sikap itu merupakan bentuk tanggungjawab kita kepada masyarakat. Karena sebanyak 70 persen APBN kita dihasilkan dari pajak. Kita ingin pajak bersih dari hal yang seperti dilakukan Gayus” tagas Hilmi.

Saya selaku Masyarakat awam yang banyak mengenal kader-kader PKS juga menilai sebaiknya sekarang PKS memang lebih aman di luar kekuasaan. Tapi PKS jangan Minta dikeluarkan, PKS wajib menunggu SBY mengeluarkan mandat mengeluarkan PKS. Kondisi ini akan sangat menguntungkan PKS. Teringat bagaimana kisah SBY yang di dzalimi oleh Megawati dan di katai “jendral yang kekanak-kanakan” oleh Taufik Kiemas membuat mata seluruh anak bangsa berbelas kasihan pada SBY. Akhirnya kita Tahu SBY keluar sebagai dari Kabinet Mega dan mampu me-KO Mega di Pemilu 2004. Kondisi seperti ini juga harus di ingat PKS. Jika nanti SBY memecat PKS bukan tidak mungkin nasib PKS akan sama dengan SBY tahun 2004 dulu. Dalam bahasa jawa ada peribahasa “Koyo kere munggah bale” , “Seperti Pengemis yang naik mimbar”. Apalagi di detik ini Posisi SBY dan Pemerintahan sangat buruk di mata Masyarakat. Kasus demi kasus hukum menggerus kepercayaan masyarakat, permusuhan dengan media membuat pencitraan SBY dan pemerintah juga (di buat) buruk, kasus century, Kasus Cikuesik, Fatwa Tokoh Lintas agama bahwa Pemerintah SBY melakukan pembohongan dan berbagai kasus lainnya membuat Pencitraan SBY makain turun. Ketika sudah seperti ini layak dan pantas PKS keluar, dan menunggu momentum di tahun 2014 di barengi mempersiapkan tokoh dan mengembangkan kader2nya. Ayo SBY keluarkan PKS, maka Kau akan memenangkan PKS!!!!

Wahadi, S.KM (Orang Awam Politik)!!!!

13.20, di Lantai 2 kantor.

Iklan

Tinggalkan Balasan

Please log in using one of these methods to post your comment:

Logo WordPress.com

You are commenting using your WordPress.com account. Logout / Ubah )

Gambar Twitter

You are commenting using your Twitter account. Logout / Ubah )

Foto Facebook

You are commenting using your Facebook account. Logout / Ubah )

Foto Google+

You are commenting using your Google+ account. Logout / Ubah )

Connecting to %s

%d blogger menyukai ini: