Pahlawan sejati Vs Pahlawan Sensasi

Pahlawan sejati Vs Pahlawan Sensasi

By: Wahadi, S.KM

Disela menikmati kekosongan waktu di langit GS (Griya Syuhada)_200110_09:22

Surabaya. Di bumi ini selalu berlaku sebuah kaidah sejarah, bahwa sejarah hanya dan hanya bisa di tulis oleh orang-orang besar yang mempunyai visi besar tentang kehidupan dan masa depan. Mereka adalah para pencipta karya kemanusiaan yang tidak hanya di butuhkan oleh diri mereka sendiri namun jauh dari itu, banyak orang-orang yang juga membutuhkannya. Bahkan produknya adalah solusi sebuah permasalahan ummat yang telah mengkronis bahkan akut. Mereka ditakbiskan sebagai pahlawan, walaupun tiada sedikipun cita-cita dalam setiap kekaryaan yang mereka lakukan untuk di sebut pahlawan. Inilah sebuah kekuatan utama para penulis emas di lembar sejarah, mereka adalah manusia-manusia ikhlas yang senantiasa bekerja dalam kesunyian jauh dari pandangan mata manusia, namun dalam keyakinannya, Ia yakin ada mata langit yang selau mengawasi dan inilah konrol diri bagi mereka jika mereka menyimpang. Inilah sebuah kekuatan yang sangat sulit ditemukan dalam diri manusia-manusia biasa dan kerdil. Bahasa keikhlasan adalah bahasa suci yang hanya bisa di suarakan oleh mereka yang mengagungkan penghargaan langit dari pada penghargaan sekejap dan fana dari makhluk bumi. Sehingga hal ini sangat sulit di samai oleh mereka yang berjiwa kerdil, yang hanya melakukan pekerjaan-pekerjaan kecil namun tanpa ragu mem-blow up nya seolah-olah apa yang mereka lakuakan adalah pekerjaan besar atau karya agung yang pantas di hargai dengan sebutan pahlawan. Dan inilah potret para manusia pencarai sensasi. Biasanya karya seperti ini adalah karya dadakan, yang tidak hanya seumur jagung berada di ingatan kolektif ummat namun juga cepat lenyap tak berbekas di telan masa. Di negri ini telah banyak membuktikan para pahlawan sensasi itu. Bagaimana kita lihat berbagai public figure yang sangat tenar namun juga sangat cepat menghilang dari panggung. Begitu instans mereka mencapai tingkat tertinggi namun begitu mudah pula mereka kembali menuruni lembah sejarah dan kembali menjadi manusia-manusia kerdil. ada pertanyaan besar mengapa hal ini bisa menerpa? Hanya ada satu jawaban. Karena asas kemanfaatan tidak ada pada karya para pahlawan sensasi itu. Karya mereka bukan sebuah representasi apa yang di butuhkan ummat. Bukan jawaban atas permasalahan ummat, bahkan tidak banyak karya mereka malah menjadi tambahan bagi permaslahan ummat saja. Terkenalnya karya mereka atau dikenalnya karya mereka malah karena konroversinya bukan karena kemanfaatannya bagi ummat ini. oleh karena itulah bedanya karya manusia besar dengan manusia kerdil. Keikhlasan dan kemanfaatan inilah dua perbedaan di antara proses penciptaannya karya tersebut.

Kawan tiap orang punya kesempatan yang sama menelusuri sendiri jalur kepahlawanan mereka. Suatu ketika kita akan menciptakan prestasi puncak kita masing-masing. Namun yang menyebabkan kita diingat dalam ingatan kolektif ummat ini bila karya prestatif kita, produk puncak kita mampu menjawab sebuah permasalahan ummat dalam segala  bidang kehidupan. Dan bumbunya adalah sebuah keikhlasan yang membersamai karya tersebut. Makanya jadikan setiap apa yang kita kerjakan adalah bagian dari penghambaan kita pada Alloh. Sebenarnya apa yang kita kerjakan sejatinya adalah ibadah kita pada Alloh. Oleh karena jangan sampai dasar kegiatan sebagai ibadah ini keluar dari kerangka berfikir kita. Dan inilah energi penyemangat bagi para pahlawan sejati, ada invisible hand, tangan yang tak terlihat yang tiap saat membantu kala para pahlawan sejati itu lumpuh, ruruh dengan kefuturan. Ada saja tangan yang menampar dengan halus setiap para pahlawan sejati itu keluar menyimpang dari rel kebenaran. Ada saja kekuatan yang tak terlihat yang mengembalikan para pahlwan sejati itu ketika mereka mati gaya, hilang produktivitas, terjerembab dalam kesia-siaan yang melenanakan mereka. Ada saja kekuatan yang membimbimbing mereka untuk tetap alam barisan dan shaf kebaikan samapi mereka menemukan kepahlawanan mereka. Sampai karya kemanusiaan itu mereka ciptakan.

Wahadi.rantisi@gmail.com

Iklan

Tinggalkan Balasan

Please log in using one of these methods to post your comment:

Logo WordPress.com

You are commenting using your WordPress.com account. Logout / Ubah )

Gambar Twitter

You are commenting using your Twitter account. Logout / Ubah )

Foto Facebook

You are commenting using your Facebook account. Logout / Ubah )

Foto Google+

You are commenting using your Google+ account. Logout / Ubah )

Connecting to %s

%d blogger menyukai ini: