Bukti Sebuah Kelelakian

Bukti Sebuah Kelelakian

Oleh wahadi_dikirim ke Jakarta katanya mau di terbitkan jadi buku tapi belum jadi

“Kelelakian seseorang di tentukan dari keberaniannya mengambil keputusan besar dalam hidupnya, sekarang” ( Mario Teguh ).

Inilah kalimat yang terucap dari public speaker yang sedang naik daun, Mario Teguh dalam salah satu fragmen acaranya di TV. Saat mendengar kalimat ini rasanya pikiran ini melayang jauh terbang ke masa lalu. Mengingat saat-saat genting itu, awal sejarah hidup yang terukir kala jari tangan ini arus mengisi pilihan Universitas di blangko pendaftaran SPMB. Ya, dengan pertimbanagan tantangan, keberanian dan harapan Saya memilih kota yang paling jauh dari pilihan teman satu kelas saya. Surabaya, saya memilih Surabaya sebagai tempat menimba ilmu. Padahal tanah metropolitan yang paling jauh Saya jamah baru Semarang, itupun ada yang menemani, karena memang orang tua tidak mengijinkan si anak semata wayangnya pergi tanpa ada yang menjaga. Dengan tekad membaja, di antar dengan hujan air mata sang bunda dan keluarga besar yang mengantar sampai stasiun terakhir, akhirnya raga ini hadir juga di kota pahlawan, sendirian. Kali ini tidak ingin diikuti apalagi ditemani salah seorang anggota keluargapun. Satu kata yang ada di kepala kala itu “Saya bukan anak mama, Saya harus membuktikan kelelakian saya ”. walau sedikit ada tantangan karena pergi sendiri, namun akhirnya kepercayaan itu di dapat juga.

Keputusan untuk kuliah di luar provinsi dan membaptis diri sebagai anak perantauan dengan hidup jauh dari keluarga dan tanah kelahiran, bagi sebagian orang adalah sebuah keputusan besar dalam hidupnya. Hal ini juga berlaku bagi Saya, mengingat saya adalah anak tunggal, yang sebelumnya hidup dengan mudah (manja, red). Merantau bagi Saya adalah pengalaman baru. Sudah terbayang bagaimana sulitnya hidup jauh dari keluarga. Apalagi Surabaya terkenal akan kota yang keras dgn tingkat kriminalitasnya tinggi, , dengan biaya hidup yang jauh lebih tinggi dan dengan berbagai tabir gelap yang belum terkuak menambah kegelisahan hati. Ya rasanya benar, the beginning is difficult, mengawali adalah pekerjaan yang sulit, tapi bukankah langkah ke seratus, bahkan langkah keseribu di tentuntakan dari langkah pertama. Dan benar karena tekad sudah membaja, rasa was-was itu akhirnya sirna juga.

Tahun pertama berada di tanah orang, adalah detik-detik perjuangan, masa-masa paling sulit. Tahun pertama adalah masa pengkondisian dengan lingkungan baru, masa adaptasi dengan teman baru, dengan kebiasaan baru, dengan cara hidup yang baru dan dengan segala macam yang bersifat baru. Kawan, inilah saat-saat terberat dalam hidup ini. Kata orang kalau sukses melewati periode waktu ini berarti kamu siap mandiri. Memilih berpisah dengan keluarga, adalah pilihan berada di zona tak nyaman. Ketika di rumah ada Ibu yang mencucikan pakaian kita, atau mesin cuci yang siap bekerja kapanpun. Namun kali ini harus mencuci sendiri, harus menyeterika sendiri. Bukan hal yang mudah untuk melakukan hal ini, ketika belum terbiasa melakukan keseharian ini sebelumnya. Ketika di rumah makanan sudah selalu siap tersaji di meja makan kapanpun perut ini lapar, namun kali ini harus membeli makanan sendiri, terkadang masak sendiri atau bahkan menjadi penggemar mie instan karena malas keluar membeli makanan. Satu hikamah lagi, ada usaha ada perjuangan untuk mewujudkan kemauan. Ketika di rumah ada Bunda kita, seorang bidadari yang siap menemani, mengobati dan menasihati ketika sakit, namun kali ini terpaksa di temani teman kos yang totalitasnya dalam menjaga sangat kurang, itupun kalau mendapat teman yang baik yang masih mau memperhatikan teman kamar kosnya. Menjadi putra perantau benar-benar menguji nyali, benar kata Dewa 19, bahwa “hidup adalah perjuangan”.

Hal lain yang memberatkan ketika berpisah jauh dengan keluarga dan memproklamirkan diri sebagai anak perantauan adalah home sickness, rasa kangen yang mendalam pada keluarga tercinta, pada kampung halaman dan pada sahabat-sahabat lama. Dan rasa rindu itu terkadang terakumulasi membuncah dalam langit-langit hati, menggejolak, membara dan mengalirkan air mata kekangenan. Foto bunda dan bapak serta suara mereka berdua yang menyenandung dari handphone terkadang masih terasa kurang. Karena belaian fisik, sentuhan sayang dan wejangan khas serta mimik wajah mereka yang mempesona belum hadir mengobati. Oleh karena itu pulang adalah kata yang mahal bagi perantau, pulang tidak hanya berarti kembali tapi juga menjadi obat. Layaknya obat, pulang kadang dapat menyembuhkan sakit rindu itu.

Tak terasa perjalanan ini sudah hampir lima tahun, sudah empat tahun lamanya makan buku kuliah dan setahun lamanya bekerja. Kawan, perjalanan ini sungguh luar biasa, karena telah melahirkan cerita dahsyat. Cerita sang peratantau. Ada kalanya senang, ada kalanya sedih. Ada saatnya lapang namun tidak jarang sempitpun menghampiri. Sepertinya perkataan kawan lama Saya di Klaten dahulu yang mengatakan “Jika kau ingin berubah dan ingin membuktikan kelelakianmu maka merantaulah, dapatkan hal-hal baru dan tantangan baru disana”. Lima tahun perkataannya mengiang ditelinga, akhirnya sekarang baru terasa kebenarannya. Kawan, Saya telah membuktikan kelelakian Saya. Lalu Kapan Anda menyusul membuktikan kelelakian Anda?

Teruntuk kawanku, terima kasih Dikau telah menuntunku berubah.

Wahadi, S.KM

Wahadi.rantisi@gmail.com

Iklan

Tinggalkan Balasan

Please log in using one of these methods to post your comment:

Logo WordPress.com

You are commenting using your WordPress.com account. Logout / Ubah )

Gambar Twitter

You are commenting using your Twitter account. Logout / Ubah )

Foto Facebook

You are commenting using your Facebook account. Logout / Ubah )

Foto Google+

You are commenting using your Google+ account. Logout / Ubah )

Connecting to %s

%d blogger menyukai ini: