modernitas dan religiusitas

Para futurolog (ahli masa depan) memprediksi bahwa masa depan yang akan dihadapi manusia adalah masa kejayaan teknologi komunikasi. Prediksi ini didasari oleh realita saat ini, ketika kemajuan teknologi bidang mikrochip, komputer, dan satelit cukup dominan. Tiga bidang teknologi inilah yang akan memacu revolusi komunikasi dan informasi, sebagaimana dinyatakan DeFleur/Dennis bahwa Technological invention and innovation that included the development of the microchip, the sattelite and the computer caused the communication revolution. (DeFleur/Dennis 1985: 76).

Teknologi bidang microchip, computer, dan sattelit satu sama lain saling melengkapi. Namun, Stephen Alnes memberikan penekanan khusus pada bidang satelit, katanya: Sattelite is the single most important piece of new hardware in the telecommunication revolution. Why? These radio relay stations ini the sky have tranponders that can receive and transmit massages. Sinces they beam messages up and down rather than horizontally across the earth’s distances, they getnone of the ground interference from mountains, buildings, and so on. (Alnes 1981: 3).

Menurut Asian Communications edisi Juni 1994, wilayah yang diramalkan akan mengalami ledakan jumlah satelit dalam waktu dekat adalah Asia Pasifik. Pesatnya pertumbuhan sarana komuniksi di kawasan Asia Pasifik adalah karena secara geografis komunitasnya sebagian terisolasi di daerah terpencil, tersebar di pulau-pulau. Satelit komunikasi yang ada di langit Asia Pasifik, kini berjumlah 50 buah, dimiliki 19 operator dari 10 negara dan 11 satelit milik 4 operator internasional. Di antaranya adalah Palapa.
Palapa, adalah satelit milik Indonesia. Diluncurkan pertamakali tahun 1976, Indonesia kini sudah mempunyai satelit generasi B, dan meningkat ke generasi C (beberapa waktu lalu telah diluncurkan satilit C1). Saat ini ada 21 stasiun tv dari sembilan negara menyewa Palapa, yaitu CNN, ESPN, HBO, TNT Cartoon, Viacom, Discovery (AS), CFI (Australia), PPN dan GMA Rainbow (Filipina), TV3 dan RTM (Malaysia), NZTV (Selandia Baru). Channel 9 (Australia, RTV (Brunei). PTV (Papua Nugini), dan enam stasiun televisi lokal (TVRI, RCTI, ANTV,TPI, SCTV, dan INDOSIAR).

Selain Palapa, satelit yang ada di Asia pasifik adalah Pacstar (satelit regional Papua Nugini). Jsat (satelit milik Jepang), Measat (satelit milik perusahaan telekomunikasi Bina Riang Malaysia). Intelsat (operator sistem satelit internasional di Asia Pasifik). Kini, negara Asia Pasifik dilayani 9 satelit Intelsat secara terpadu), Apstar (satelit milik perusahaan APT Sattelite Company yang berdiri di Hongkong, dll. (lebih rinci lihat Asian Communications, edisi Juni 1994).

Menelaah fakta-fakta di atas, jelaslah bahwa revolusi informasi tidak datang begitu saja, tapi ada yang mengawalinya, yaitu revolusi bidang teknologi. Atau dengan kata lain, revolusi informasi tidak bisa dipisahkan dengan kemajuan pesat di bidang teknologi (revolusi teknologi). Lalu, siapakah para penguasa teknologi saat ini? Menurut UNESCO (dalam Science, Technology, and Developing Countries, Paris, 1977), Amerika serikat menumbuhkan dan menggenggam hampir sepertiga dari seluruh karya riset dan pengembangan. Sepertiga lagi dikembangkan dan digenggam oleh Eropa Barat dan Jepang, dan hampir sepertiga selebihnya oleh Rusia.

Bertolak dari apa yang dikemukakan UNESCO, jelaslah bahwa yang menjadi kiblat riset iptek saat ini adalah Amerika Serikat, Eropa Barat, Jepang, dan Rusia. Bagaimana dengan negara-negara muslim? Tidak ada satu pun negara muslim yang dijadikan kiblat dalam bidang iptek karena porsi kepemilikan risetnya hanya sekitar tiga persen saja dari seluruh hasil riset yang dikembangkan di dunia ini. Konsekuensinya, kemajuan bidang teknologi dengan segala konsekuensinya, termasuk di dalamnya revolusi informasi akan mencerminkan para penguasa teknologi itu sendiri, yaitu bercirikan sekuler (nilai-nilai transendental terlepas dari kehidupan duniawi).

Konsekuensi selanjutnya sebagai akibat dari revolusi teknologi dan revolusi informasi adalah revolusi sosial dan budaya. Hal ini terjadi karena batas-batas geografis antar negara makin transparan, sehingga terjadilah budaya yang makin mengglobal, bahkan merambah pada bidang ekonomi (ekonomi global).

Bertolak dari paparan di atas, ada beberapa masalah yang perlu diantisipasi, yaitu apa yang harus dilakukan remaja muslim dalam menghadapi tantangan modernitas (revolusi teknologi, informasi, dan budaya)? Lalu, bagaimana ajaran Islam bisa dilaksanakan secara konsekuen di tengah-tengah arus sekulerisme yang begitu kuat?

Secara garis besar, sikap remaja muslim dalam menghadapi tantangan modernitas terbagi pada tiga kelompok,

1. Remaja muslim yang distopistik, yaitu remaja muslim yang lari dari kenyataan, apatis, bahkan pesimis menghadapi tantangan modernitas. Mereka lari dari persaingan, tidak ada gairah belajar, bahkan berhenti kuliah karena menganggap bahwa materi perkuliahan itu ilmu sekuler, dan akhirnya berdiam diri.

2. Remaja muslim yang utopistik, yaitu remaja muslim yang memiliki optimisme yang berlebihan. Ia berkeyakinan bahwa kemodernan itu bisa menyelesaikan segala masalah. Karena itulah ia belajar sungguh-sungguh dan siap bersaing. Hal tersebut tentunya sangat baik. Sayangnya, remaja yang utopistik ini sikapnya berlebihan.

3. Remaja muslim yang moderat, yaitu remaja yang mampu melihat dirinya secara utuh, tulus dalam melaksanakan kewajibannya dan tidak lalai dalam menghadapi tantangan zaman. Sikapnya diimplementasikan dengan belajar dan bekerja sungguh-sungguh, mau bersaing, dan mampu melihat kenyataan secara realistik.

Mencermati kenyataan di atas, bisa dianalisis bahwa yang paling ideal adalah sikap yang ketiga, yaitu moderat. Dikatakan ideal karena sikap ini didukung oleh beberapa isyarat Al Qr’an bahwa kaum muslimin, baik laki-laki ataupun perempuan, dinobatkan sebagai khalifah fil ardh (yang mengatur bahkan sebagai decision maker demi kemaslahatan dunia). Dan untuk bisa melaksanakan kekhalifahan secara mapan, modal utamanya adalah ilmu, hal ini tercermin ketika Allah swt. berfirman kepada para malaikat bahwa Dia akan menjadikan Adam dan keturunannya (manusia) sebagai khalifah. Yang diperlihatkan kepada para malaikat untuk menduduki jabatan khalifah fil ardh adalah penguasaan ilmu. (lihat Q.S. Al Baqarah: 30-33).

Penguasaan ilmu merupakan kunci kesuksesan sebagai khalifah fil ardh. Kemudian terlihat pula dalam ayat yang pertama kali diterima Rasulullah saw., yaitu lima ayat dari surat Al ‘Alaq. Lima ayat ini menyentuh masalah yang paling essensial dari potensi manusia, yaitu akal dan batin (fikir dan dzikir), juga disebutkan perangkatnya, yaitu iqra (baca, riset, teliti), ‘allama (mengajarkan/transfer ilmu), dan qalam (alat tulis/alat penyimpan data/memori).

Kalau ayat-ayat Al Qur’an ditelusuri secara seksama, bisa ditemukan bahwa pengembangan dan pengoptimalan intelektual yang berwawasan tauhid sangat mewarnai pesan-pesan Al Qur’an. Ini terbukti misalnya dengan disebutkannya kata ‘ilmu dengan berbagai pecahannya sebanyak 780 kali. Allah swt. mengangkat derajat orang yang berilmu dan beriman (Q.S. 58: 11). Kemudian, yang paling takut pada Allah adalah orang-orang yang berilmu (Q.S. 35: 28).

Berbekal ruh inilah, kemudian kaum muslimin generasi awal membangun fondasi peradaban untuk bisa mandiri. Karena kemandirian merupakan suatu keniscayaan/kemestian untuk bisa melaksanakan ajaran Islam secara utuh (Q.S. 4; 141). Akhirnya, fakta historis menunjukkkan bahwa dengan semangat Qur’ani, selama beberapa abad ulama-ulama/saintis-saintis muslim menjadi pelopor ilmu, pembawa obor pengetahuan, dan karya-karya mereka dijadikan texbook/handbook di Eropa selama beberapa abad, sehingga kaum muslimin benar-benar menduduki jabatan khalifah fil ardh. Namun, mengapa kaum muslimin saat ini mundur, mereka hanya sebagai objek, dan tidak menjadi subjek?

Pada masa keemasan, kemakmuran duniawi ternikamati karena fasilitas hidup melingkupi diri. Kondisi ini cenderung membuat manusia lupa akan tugas utamanya, yaitu beribadah dan meneruskan mata rantai perjuangan. Semangat ijtihad (pengembangan ilmu) dan jihad (pengembangan power) yang sebenarnya harus tetap melekat pada dada setiap muslim, mulai menurun dari semangat hidup kaum muslimin. Pelan tapi pasti, semangat ijtihad dan jihad mulai direbut oleh orang-orang Eropa yang saat itu mulai bangun dari kelelapan keterbelakangannya. Dengan proses waktu, kira-kira mulai abad ke-14 Masehi dan seterusnya, supremasi mulai berpindah ke tangan orang lain, satu per satu negara-negara muslim bertekuk lutut pada orang lain. Klimaksnya, kaum muslimin menjadi bangsa tertindas, menjadi budak-budak bangsa nonmuslim hingga awal abad ke-19.

Jadi, penyebab utama kemunduran dan kekalahan kaum muslim adalah mandulnya semangat ijtihad (pengembangan ilmu) dan jihad (penegakkan power). Kini perlu ditelusuri faktor-faktor apa saja yang melatarbelakangi mandulnya semangat pengembangan ilmu itu. Masalah ini sebenarnya tidak mudah untuk dijawab, sebab cukup kompleks. Walaupun demikian, kita bisa mencoba membuat suatu hipotesis bahwa penyebab dominan kemandulan pengembangan ilmu di kalangan kaum muslimin adalah karena lahirnya pemikiran dikhotomistik terhadap ilmu (ilmu terbagi dua: ilmu umum dan ilmu agama).

Ini merupakan miskonsepsi (kesalahan konsep) yang cukup fatal, sebab tidak relevan dengan ruh Qur’ani. Ada beberapa alasan mengapa pandangan dikhotomistik itu tidak sejalan dengan ajaran Al Qur’an.

1. Dalam sebagian besar ayat Al Qur’am dan hadits, konsep ilmu secara mutlak muncul dalam makna generik (umum), misalnya dalam Q.S. 2: 31, 39: 9, 96: 5, 12: 76, 16: 70, dll.

2. Beberapa ayat Al Qur’an secara eksplisit menunjukkan bahwa ilmu itu tidak mengandung arti hanya belajar prinsip-prinsip dan hukum-hukum agama saja, misalnya dalam Q.S. 27: 15-16 (dalam ayat ini disebutkan Nabi Sulaiman memandang pengetahuan bahasa burung sebagai rahmat dari Allah swt). Atau bisa dibaca Q.S. 35: 27-28 (kata ulama –pemilik pengetahuan— dalam ayat ini menunjuk pada orang yang sadar akan hukum alam dan misteri-misteri penciptaan, sehingga merasa rendah hati dan takut di hadapan Allah swt).

3. Al Qur’an mengakui adanya bidang spesialisasi dalam penguasaan ilmu (Q.S. 9: 122). Namun spesialisasi itu tidak identik dengan dikhotomisasi (pemisahan).

Pemikiran dikhotomistik ini bukan hanya memandulkan semangat riset, tapi juga bisa melahirkan pertentangan internal antara kubu ilmu umum (ilmuwan/saintis) dan kubu ilmu agama (agamawan). Para ahli ilmu agama cenderung kurang menghargai, atau bahkan lebih ekstrim lagi ada yang mengkafirkan hasil penemuan ilmu-ilmu umum. Konsekuensinya, orang-orang yang bergelut di bidang ilmu umum menilai para agamawan sebagai penghambat kemajuan ilmu. Klimaksnya, iptek terpisah dari agama.

Untuk bisa menanggulangi sukses generasi awal, kita harus melakukan seperti apa yang pernah mereka lakukan. Tugas mendesak yang harus dilakukan saat ini adalah mengembalikan ruh Islam secara proporsional dalam seluruh dimensi kehidupan. Maksudnya, kita harus melakukan seperti apa yang pernah dilakukan Rasul, yaitu tidak memisahkan dunia dan akhirat. Setiap aktivitas duniawi mempunyai proyeksi akhirat dan setiap amalan ukhrawi memiliki imbas duniawi. Sehingga terciptalah fiddunya hasanah wa fil akhirati hasanah (di dunia memiliki supremasi dan di akhirat menikmati surga abadi).

Agar supremasi duniawi yang pernah diraih kaum muslimin ini bisa direbut kembali, menjadi suatu keniscayaan bagi remaja untuk mempersiapkan diri dengan belajar sungguh-sungguh, tekun, dan selalu siap berkompetisi, serta menghadapi kenyataan secara realistik. Wallahu A’lam.

Iklan

Tinggalkan Balasan

Please log in using one of these methods to post your comment:

Logo WordPress.com

You are commenting using your WordPress.com account. Logout / Ubah )

Gambar Twitter

You are commenting using your Twitter account. Logout / Ubah )

Foto Facebook

You are commenting using your Facebook account. Logout / Ubah )

Foto Google+

You are commenting using your Google+ account. Logout / Ubah )

Connecting to %s

%d blogger menyukai ini: