TAUJIH USTAD JA’FAR

Segala puji hanya bagi Alloh, dimana saat ku-tulis risalah ini, Alloh SWT masih berkenan memberiku umur dan kesempatan untuk bertaubat dan beramal sholeh. Sungguh merupakan kenikmatan tak terkira, karena dijumpakan kembali dengan sepuluh hari terakhir di bulan Ramadhan yang penuh berkah. Nikmat tak terhingga, karena 6 hari lalu aku menjalani operasi hernia yang membuatku tegang dan ‘takut’. Tegang karena ini hal pertama dalam sejarah hidupku (dan semoga yang terakhir), dan ‘takut’ karena boleh jadi ini romadhon yang terakhir dan tak ada kesempatan lagi untuk menghirup udara dunia. Dan itu berarti tak ada kesempatan untuk bertaubat dan beramal sholeh lagi, juga kesempatan untuk memohon ma’af kepada sesama. Karena itu maafkanlah semua salah dan kekhilafan saya kepada ikhwah dan teman-teman semua. Alhamdulillah, berkat do’a dan support banyak ikhwah, teman-teman seperjuangan, operasi pada hari jum’at 28 September 2007M/16 Ramadhan 1428 H yang lalu, berjalan lancar dan sukses. Subhanalloh…

Saudaraku, meski Ramadhon sebentar lagi akan berlalu, RasuluLloh Shallallahu Alaihi wa Sallam memberi kabar gembira kepada kita semua, seperti dalam sabdanya, ”Orang yang berpuasa itu mempunyai dua macam kegembiraan yang dirasakannya, yaitu saat berbuka puasa dia bergembira dengan makanannya, dan jika bersua Rabb-nya dia bergembira dengan puasanya.” (HR.Bukhori-Muslim)
Kegembiraan orang yang berpuasa saat berbuka merupakan kegembiraan yang alami, karena dia mendapatkan ‘kebebasannya’ kembali dari apa yang tadinya dilarang menjadi diperbolehkan. Dia bergembira saat berbuka juga merupakan kegembiraan religius, karena dia mendapatkan Taufiq untuk melaksanakan kewajiban terhadab Rabb-nya. Firman Alloh,
Katakanlah: “Dengan kurnia Allah dan rahmat-Nya, hendaklah dengan itu mereka bergembira. Kurnia Allah dan rahmat-Nya itu adalah lebih baik dari apa yang mereka kumpulkan”. (Yunus: 58)
Bulan Ramadhon segera berlalu, entah sebagai saksi yang meringankan kita atau justru menjadi saksi yang memberatkan kita. Ramadhon berlalu dan akan menjadi pemberi syafaat bagi orang yang berpuasa dan qiyamul lail dengan baik, karena dorongan iman dan mencari keridhoan Alloh, sehingga dosa-dosanya yang lampau diampuni. Tapi bulan ramadhan juga akan menjadi saksi orang-orang yang berpuasa dan sholat malam tidak dengan cara yang baik, sehinga dari puasanya itu mereka hanya mendapatkan lapar dan dahaga, hanya mendapatkan letih dan kantuk dari sholat malamnya. Tentu saja kita semua berharap agar Ramadhan menjadi saksi bagi pahala kita, seperti halnya Al-Qur’an yang sama-sama akan memintakan syafaat bagi kita. RasuluLloh SAW bersabda, “Puasa dan Al-Qur’an akan memberi syafaat bagi hamba pada hari kiamat.” (HR.Ahmad)
Manusia bergembira dengan berlalunya hari dan bulan. Sementara mereka tidak menyadari bahwa dengan begitu umur mereka semakin tergerogoti dan berkurang. Al-Hasan berkata, ”Wahai anak Adam, sesungguhnya engkau adalah kumpulan hari-hari. Setiap kali satu hari berakhir, maka satu bagian dari dirimu juga ikut lenyap.”
Diantara manusia ada yang menghadapa Alloh hanya pada bulan Ramadhan saja. Sehingga jika bulan Ramadhan berakhir, maka berakhir pula hubungannya dengan Alloh. Diluar Ramadhan dia tidak lagi pergi ke masjid, tidak mau membuka al-Qur’an, tidak membasahi lidahnya dengan dzikir dan tasbih. Seakan-akan Alloh hanya layak disembah pada bulan Ramadhan saja, sementara pada bulan-bulan lain Dia tidak perlu disembah.
Barangsiapa yang ’menyembah’ bulan ramadhan, sesungguhnya bulan Ramadhan itu akan mati dan berlalu. Sementara Alloh SWT tidak pernah mati dan senantiasa hidup. Diantara orang salaf ada yang berkata,”Seburuk-buruk orang ialah yang tidak mengenal Alloh kecuali pada bulan Ramadhan. Maka jadikanlah diri anda seorang Rabbani, dan jangan menjadi Ramadhani.”
Jadilah Rabbani artinya jadilah anda bersama Alloh dan bertaqwalah kepada-Nya, dimanapun dan kapanpun. Janganlah menjadi Ramadhani, artinya janganlah Anda menghadap Alloh hanya pada bulan Ramadhan, dan setelah itu anda melupakan-Nya dan durhaka kepada-Nya.
Kemudian setelah Ramadhan kita disunnahkan untuk berpuasa enam hari dari bulan Syawal, agar manusia senantiasa dalam perjanjian dan pertautan dengan Alloh SWT. Keluar dari satu ibadah untuk masuk ke ibadah lainnya. Selesai satu ketaatan, dimulai lagi dengan ketaatan lainnya. RasuluLloh SAW bersabda, “Barangsiapa mengerjakan puasa Ramadhan, kemudian menyusulinya dengan puasa enam hari dari Syawal, maka itu seperti puasa setahun penuh.” (HR.Muslim)
Memasuki hari pertama bulan Syawal, seruan Takbir berkumandang di seluruh penjuru dunia. Yaa, Takbir untuk menyatakan bahwa Alloh lebih besar dari segala kekuatan yang ada di alam ini. Alloh lebih besar dari kesewenang-wenangan para penguasa yang dzalim dan dari kesombongan orang-orang yang sombong. Alloh lebih besar dari kepongahan orang-orang yang berduit dan memegang kekuasaan. Jika Anda melihat seorang tiran, lalu terlintas dalam pikiran anda untuk merundukkan kepala dan membungkukkan badan dihadapannya, segeralah ingat bahwa Alloh itu Maha Besar. Maka itu jika Anda melihat dunia seolah bersinar dihadapan anda, dan segala ’permainan’ dan kehidupan Anda condong kepada dunia itu, segeralah ingat bahwa Alloh Maha Besar dari dunia seisinya.
Alloohu Akbar, Alloohu Akbar, Alloohu Akbar walillaahi-Lhamdu.

Iklan

Tinggalkan Balasan

Please log in using one of these methods to post your comment:

Logo WordPress.com

You are commenting using your WordPress.com account. Logout / Ubah )

Gambar Twitter

You are commenting using your Twitter account. Logout / Ubah )

Foto Facebook

You are commenting using your Facebook account. Logout / Ubah )

Foto Google+

You are commenting using your Google+ account. Logout / Ubah )

Connecting to %s

%d blogger menyukai ini: