Wahadii’s Weblog

jangan hanya melakukan apa yang kamu cintai, tapi cintai apa yang kamu lakukan.

Arsip untuk Agustus 31, 2008

jadwal pemilu 2009

Pemilu Legislatif 2009
Jadwal Lengkap Pemilu Legislatif 2009
Sabtu, 02 Agustus 2008 – pengirim: redaksi

 

Agenda nasional untuk memilih para wakil rakyat terbaik melalui Pemilihan Umum (Pemilu) telah di depan mata. Hari pemungutan suara yakni pada 9 April 2009 kurang setahun lagi. Partai-partai peserta pemilihan termasuk PKS mulai memanaskan mesin politiknya. Sebagai panduan ringkas, berikut jadwal lengkap agenda demi agenda Pemilihan Umum (Pemilu) Anggota Legislatif 2009 sejak dari Penyusunan Daftar Pemilih Sementara (DPS) hingga Pelantikan Calon Terpilih:

 
Agenda Mulai Akhir Durasi
(Hari)
Penyusunan dan Pengesahan DPS 07 Jul 2008 07 Agu 2008 31
Pengumuman DPS 08 Agu 2008 14 Agu 2008 6
Penyusunan dan Penetapan DPT 11 Sep 2008 30 Sep 2008 19
Pengambilan Formulir Calon Anggota DPR, DPRD 05 Agu 2008 09 Agu 2008 4
Pengajuan Bakal Calon oleh Parpol 10 Agu 2008 15 Agu 2008 5
Verifikasi kelengkapan Administratif 11 Agu 2008 03 Sep 2008 23
Penyampaian hasil verifikasi kpd Parpol 12 Agu 2008 05 Sep 2008 24
Penyusunan dan Penetapan Daftar Calon Tetap 09 Okt 2008 26 Okt 2008 17
Pengumuman DCT anggota DPR/DPRD 27 Okt 2008 27 Okt 2008 0
Verifikasi Faktual 18 Jul 2008 18 Agu 2008 31
Penyusunan dan Penetapan Daftar Calon Tetap 09 Okt 2008 26 Okt 2008 17
Pengumuman DCT anggota DPD 27 Okt 2008 27 Okt 2008 0
Persiapan Kampanye 02 Jan 2009 28 Peb 2009 57
Pelaksanaan Kampanye non Massal 08 Jul 2008 01 Apr 2009 267
Pelaksanaan Kampanye Massal 16 Mar 2009 05 Apr 2009 20
Masa Tenang 06 Apr 2009 08 Apr 2009 2
Pemungutan Suara 09 Apr 2009 09 Apr 2009 0
PPS mengumumkan salinan hasil dari TPS 10 Apr 2009 11 Apr 2009 1
Rekapitulasi di PPK 11 Apr 2009 15 Apr 2009 4
Rekapitulasi di KPU Kab./Kota 15 Apr 2009 19 Apr 2009 4
Rekapitulasi di KPU Provinsi 17 Apr 2009 19 Apr 2009 2
Rekapitulasi di KPU Pusat 22 Apr 2009 09 Mei 2009 17
Penetapan Hasil Pemilu 09 Mei 2009 09 Mei 2009 0
Penetapan dan pengumuman calon terpilih 17 Mei 2009 24 Mei 2009 7
Peresmian keanggotaan DPRD Kab./Kota, DPRD Provinsi, DPR dan DPD 01 Jun 2009 30 Sep 2009 121
Pengucapan sumpah/janji 01 Jul 2009 01 Okt 2009 92

Ramadhan

Bagaimana Menyambut Ramadhan?
Ahad, 24 Agustus 2008 – pengirim: redaksi

 

Puasa (الصيام) secara bahasa berarti : menahan (الإمساك). Menurut istilah, puasa berarti bentuk ibadah kepada Allah Ta’ala dengan meninggalkan sesuatu yang membatalkan sejak terbit fajar hingga terbenam matahari.

Menahan makan dan minum untuk tujuan lain selain ibadah, seperti pengobatan atau semacamnya, tidak dapat dinamakan puasa, meskipun istilah puasa biasa dipakai untuk hal-hal semacam itu.
 
Hukum Puasa 

Puasa Ramadhan merupakan salah satu rukun Islam yang diwajibkan atas setiap muslim yang baligh, berakal, mampu melakukannya dan menetap (tidak sedang bepergian).

Allah Ta’ala berfirman:

 
يَا أَيُّهَا الَّذِينَ آمَنُوا كُتِبَ عَلَيْكُمُ الصِّيَامُ كَمَا كُتِبَ علَىَ الَّذِيْنَ مِنْ قَبْلِكُمْ لَعَلَّكُمْ تَتَّقُونَ
[البقرة :128]
“Hai orang-orang yang beriman, diwajibkan atas kamu berpuasa sebagaimana diwajibkan atas orang-orang sebelum kamu agar kamu bertaqwa”               (QS. al-Baqarah:  183)

Rasulullah bersabda :
 

« بُـنِيَ اْلإِسْلاَمُ عَلَى خَمْسٍ :شَهَادَةِ أَنْ لاَ إِلَهَ إِلاَّ اللهُ وَأَنَّ مُحَمَّداً رَسُوْلُ اللهِ، وَإِقَامِ الصَّلاَةِ، وَإِيْتَاءِ الزَّكَاةِ، وَصَوْمِ رَمَضَانَ وَحَجِّ الْبَيْتِ الْحَرَامِ »

 “Islam dibangun di atas lima perkara: Ber-saksi bahwa tidak ada Tuhan yang disembah kecuali Allah dan (bersaksi) bahwa nabi Muhammad Rasulullah, mendirikan shalat, mengeluarkan zakat, puasa Ramadhan dan pergi haji ke Bait al-Haram”       (Muttafaq alaih)

 
Keutamaan Bulan Ramadhan dan Puasa di Dalamnya

1. Diturunkannya al-Quran.

Allah Ta’ala berfirman:
“Bulan Ramadhan, bulan yang di dalamnya diturunkan (permulaan) al-Quran sebagai petunjuk bagi manusia dan penjelasan-pen-jelasan mengenai petunjuk itu dan pembeda (antara yang haq dan yang bathil)  
(QS. al-Baqarah : 185)

2. Di dalamnya terdapat Lailatul Qadar .

Lailatul Qadar adalah suatu malam yang nilainya lebih baik di sisi Allah Ta’ala dari seribu bulan.

Firman Allah Ta’ala :
“Sesungguhnya kami telah menurunkannya (Al-Quran) pada malam kemuliaan (Lailatul Qadar). Dan tahukah kamu apakah malam kemuliaan itu ?, Malam kemuliaan itu lebih baik dari seribu bulan”       (QS. al-Qadar : 1-3)

3. Terkabulnya doa orang yang puasa.
Rasulullah bersabda :

« ثَلاَثُ دَعَوَاتٍ مُسْتَجَابَاتٍ: دَعْوَةُ الصَّائِمِ، وَدَعْوَةُ الْمَظْلُوْمِ، وَدَعْوَةُ الْمُسَافِرِ »   
 
“Ada tiga doa yang dikabulkan: Doa orang yang puasa, doa orang yang dizolimi dan doa orang yang berpergian”         (Riwayat Baihaqi)

4. Setan-setan diikat, pintu syurga dibuka  dan pintu neraka ditutup.
Rasulullah bersabda:

« إِذَا دَخَلَ رَمَضَانَ فُتِحَتْ أَبْوَابُ السَّمَاءِ ، وَغُلِّقَتْ أَبْوَابُ جَهَنَّمَ وَسُلْسِلَتِ الشَّيَاطِيْنُ »
 
“Jika datang Ramadhan, pintu langit dibuka, pintu neraka ditutup dan setan-setan diikat”
(Muttafaq alaih)

“Jika datang Ramadhan, pintu surga dibuka”
(Muttafaq alaih)

5. Puasa  adalah  sarana untuk menjaga kesucian diri (‘Iffah).

Terbukti bahwa puasa sangat besar pengaruhnya dalam menjaga anggota badan (dari perbuatan maksiat) dan (menjaga) kekuatan bathin, oleh karena itu Rasulullah bersabda:

« يَا مَعْشَرَ الشَّبَابِ؛ مَنِ اسْتَطَاعَ مِنْـــــكُمُ  الْبَاءَةَ فَلْيَتَزَوَّجْ، فَإِنَّهُ أَغَضُّ لِلْبَصَرِ وَأَحْصَنُ لِلْفَرْجِ، وَمَنْ لَمْ يَسْتَطِعْ فَعَلَيْهِ باِلصَّوْمِ فَإِنَّهُ لَهُ وِجَاءٌ »

   
“Wahai para pemuda; siapa di antara kalian yang sudah mampu, maka menikahlah, karena menikah dapat menundukkan pan-dangan dan menjaga kemaluan, siapa yang tidak mampu (menikah), maka hendaklah dia puasa, karena puasa merupakan pelindung”  (Muttafaq alaih)

 
6. Puasa sebagai tameng.

Puasa adalah tameng di mana seorang yang berpuasa berlindung dengannya dari neraka. Rasulullah bersabda :

« الصِّيَامُ جُنَّةٌ يَسْتَجِنُّ بِهَا الْعَبْدُ مِنَ النَّارِ »
 
“Puasa adalah tameng, orang yang sedang puasa berlindung dengannya dari api neraka” (Riwayat Ahmad)

7. Puasa merupakan sebab masuk syurga.

Jika puasa dapat mencegah seseorang dari api neraka, itu berarti dia mendekatkannya kepada syurga.

 
Dari Umamah radiallahuanhu dia ber-kata: Aku berkata: “Ya Rasulullah tunjukkanlah kepadaku perbuatan yang dapat memasukkan aku ke dalam syurga”
 
Beliau bersabda :

« عَلَيْكَ بِالصَّوْمِ، لاَ مِثْلَ لَهُ »
 
“Hendaklah kamu puasa, tidak ada yang sebanding dengannya” (Riwayat an-Nasa’i, Ibnu Hibban dan Hakim dengan sanad yang shahih)
 
8. Puasa dan al-Quran dapat memberikan syafaat bagi yang melakukannya.

Rasulullah  bersabda :

« الصِّيَامُ وَالْقُرْآنُ يَشْفَعَانِ لِلْعَبْدِ يَوْمَ الْقِيَـــــــامَةِ،      يَقُوْلُ الصِّيَامُ: أَيْ رَبِّ مَنَعْتُهُ الطَّعَامَ وَالشَّهْوَةَ،       فَشَفِّعْنِي فِيهِ، وَيَقُوْلُ الْقُرْآنُ: مَنَعْتُهُ النَّوْمَ بِاللَّيْلِ، فَشَفِّعْنِي فِيهِ، قَالَ:  فَيُشَفَّعَانِ »
 
“Puasa dan Al-Quran menjadi syafaat bagi se-orang hamba pada hari qiamat, puasa akan berkata: “Ya Rabb dia telah mencegahnya ma-kanan dan syahwat, jadikanlah aku syafaat baginya”, sedangkan al-Quran berkata : “Ya Rabb, aku telah mencegahnya tidur pada wak-tu malam, jadikanlah aku syafaat baginya”. Dia berkata : “Keduanya dapat memberi sya-faat“ (Riwayat Ahmad dan Hakim dengan sanad hasan)

9. Ar-Rayyan bagi orang-orang yang puasa.
Rasulullah  bersabda :
 

« إِنَّ فِي الْجَنَّةِ بَاباً يُقَالُ لَهُ: الرَّياَّنُ، يَدْخُلُ مِنْهُ الصَّائِمُونَ يَوْمَ الْقِيَامَةِ لاَ يَدْخُلُ مِنْهُ أَحَدٌ غَيْـرُهُمْ فَإِذَا دَخَلُوا أُغْلِقَ، فَلَمْ يَدْخُلْ مِنْهُ أَحَدٌ »          
 
“Sesungguhnya di syurga terdapat pintu yang bernama: Ar-Rayyan, mereka yang puasa akan memasukinya pada hari qiamat dan tidak ada seorangpun yang masuk ke dalam-nya selain mereka, jika mereka telah masuk, maka pintu itupun ditutup dan tidak ada seorangpun yang memasukinya”  (Muttafaq alaih)
   
10. Orang yang berpuasa diberi ganjaran yang tidak terbatas.

Rasulullah bersabda :

« إِنَّ رَبَّكُمْ يَقُولُ: كُلُّ حَسَنَةٍ بِعَشْرِ أَمْثَالِهَا إِلَى سَبْعِمِائَةِ ضِعْفٍ وَالصَّوْمُ لِي وَأَنَا أَجْزِي بِهِ »

       
“Sesungguhnya Rabb kalian berfirman: Setiap kebaikan akan dibalas dengan sepuluh ke-baikan hingga tujuh ratus kali lipat. Puasa adalah untuk-Ku dan Akulah yang membalas-nya” (Riwayat Turmuzi)

11. Puasa adalah ibadah Yang hanya tampak oleh Allah Ta’ala. 

Allah Ta’ala berfirman (hadits qudsi):

« الصَّوْمُ لِي وَأَنَا أَجْزِي بِهِ، يَدَعُ شَهْوَتَهُ وَطَعَامَهُ مِنْ أَجْلِي»

     
“Puasa untuk-Ku dan Akulah yang akan membalasnya, dia meninggalkan syahwat dan makan hanya karena-Ku”     (Riwayat Muslim)

12. Puasa menyebabkan ketaqwaan.

Allah Ta’ala berfirman :
“Hai orang-orang yang beriman, diwajibkan atas kamu berpuasa sebagaimana diwajibkan atas orang-orang sebelum kamu agar kamu bertaqwa” (QS. al-Baqarah:  128)

13. Bau mulutnya orang yang puasa lebih harum di sisi Allah  dari wangi minyak kesturi.

Rasulullah bersabda:
 

« لَخَلُوْفُ فَمِ الصَّائِمِ أَطْيَبُ عِنْدَ اللهِ مِنْ رِيْحِ  الْمِسْكِ »   
 
“Bau mulut orang yang puasa lebih harum di sisi Allah dari wangi minyak kesturi” (Riwayat Bukhari)

14. Ampunan bagi orang puasa atas dosa-dosanya yang telah lalu.

«مَنْ صَامَ رَمَضَانَ إِيْمَاناً وَاحْتِسَاباً غُفِرَ لَهُ مَا تَقَدَّمَ مِنْ ذَنْبِهِ »   
 
 “Siapa yang puasa pada bulan Ramadhan dengan iman dan harapan mendapatkan pahala maka akan diampuni dosa-dosanya yang telah lalu”      (Riwayat Bukhari dan Muslim)

Golongan Manusia Pada Bulan Ramadhan

1.  Muslim baligh, berakal dan menetap: Wajib baginya puasa, jika dia mampu melakukannya dan tidak terdapat padanya halangan.

2.  Anak kecil yang belum baligh: Tidak diwajibkan baginya puasa, akan tetapi  walinya supaya menganjurkannya berpuasa agar terbiasa.

3.   Orang yang tidak mampu puasa karena sebab yang tetap, seperti orang tua renta, orang sakit yang sudah tidak diharapkan lagi kesembuhannya. Dia boleh berbuka, dan setiap hari yang puasanya dia tinggalkan, diganti dengan memberi makan seorang miskin.

4.  Orang sakit yang diharapkan kesembuhannya: jika berat baginya untuk puasa dia dapat berbuka namun harus menggantinya (qadha) setelah sembuh.

5.  Wanita haid dan Nifas: Tidak boleh baginya melakukan puasa namun dia wajib mengganti puasa  yang dia tinggalkan (di hari lain).

6.  Wanita hamil atau menyusui: Jika berat baginya berpuasa karena hamil atau menyusui atau khawatir akan kondisi anaknya, dia dapat berbuka dan meng-gantinya tatkala keadaannya sudah pulih dan kekhawatirannya telah hilang.

7.  Musafir: Dia boleh berpuasa atau berbuka sesuai keinginannya. Akan tetapi jika berat dan lelah maka berbuka lebih utama, berdasarkan firman Allah Ta’ala:

“Allah menginginkan untuk kalian kemudahan dan tidak menginginkan untuk kalian kesusahan” (QS. al-Baqarah : 185)
Bagi yang berbuka, dia harus meng-gantinya, baik safarnya bersifat sementara seperti umroh atau bersifat tetap seperti sopir angkutan.

8.  Orang yang terpaksa berbuka karena harus menyelamatkan seseorang seperti tenggelam  atau terjebak keba-karan: Dia boleh berbuka  dan harus menggantinya di kemudian hari.

Bagaimana Menyambut Ramadhan?

1.    Mensucikan diri sebelum Ramadhan tiba.

Hal tersebut dilakukan dengan ber-taubat kepada Allah dari segala dosa serta meninggalkan maksiat. Siapa yang durhaka kepada kedua orang tuanya hendaklah dia berusaha untuk minta ridho keduanya, siapa yang memutus silaturrahmi hendaklah dia menyambungnya, siapa yang biasa mende-ngar lagu-lagu dan musik, dia harus menghentikannya dan menyiapkan dirinya untuk mendengarkan al-Quran, dan  siapa yang melakukan riba hendaklah dia menghentikannya dan tidak makan kecuali dari  usaha yang halal.
Setiap orang hendaklah mengoreksi lembaran-lembaran kehidupannya sebe-lum Ramadhan tiba.

2. Menyusun agenda kegiatan yang akan dilakukan dengan disiplin selama Ramadhan.

Sebagaimana seorang pedagang cerdik yang menggunakan kesempatan sebaik-baiknya saat perdagangan sedang ramai, maka begitu jugalah seharusnya seorang muslim, dia menyusun agenda kerja yang terpadu dalam rangka beramal shaleh yang dilakukan dengan disiplin selama bulan Ramadhan sehingga dia dapat mengambil keuntungan setiap saat yang terdapat di dalamnya. Hal tersebut juga akan memudah-kannya untuk melakukan penilaian di akhir bulan baik yang datang hanya sekali setahun itu.

3. Berdoa dengan penuh permohonan di dalamnya

Semoga Allah memberinya kemudahan dalam melakukan puasa, beribadah di dalamnya serta melakukan setiap perbuatan yang diridhoi-Nya dan dijauh-kan dari segala sesuatu yang dapat meru-sak puasanya, atau mengurangi pahalanya.

Rasulullah bersabda :

« الدُّعَاءُ هُوَ الْعِبَادَةُ »   
 
 “Doa adalah Ibadah”

4. Saat Melihat Hilal (bulan tsabit, tanggal satu hijriah)

 
Saat melihat hilal hendaklah seorang muslim mengucapkan:

اللَّهُمَّ أهِلَّهُ عَلَيْنَا بِالأَمْنِ والإيـمَانِ والسَّلاَمَةِ والإسْلاَمِ، رَبِّي وَرَبُّكَ  اللهُ . هِلاَلَ رُشْدٍ  وَخَيْرٍ

      

“Ya Allah tampakkanlah bulan tanggal satu itu dengan membawa keamanan dan keimanan, keselamatan dan Islam, Tuhanku dan Tuhanmu adalah Allah, (semoga) hilal ter-sebut (pertanda) petunjuk dan kebaikan”
 (Riwayat Turmuzi, beliau berkata haditsnya hasan)

Yang Membatalkan puasa

1.    Jima’ (bersetubuh).

Orang yang bersetubuh pada siang hari bulan Ramadhan, puasanya batal dan dia wajib meng-qadha (menggantinya) dan wajib membayar kaffarat (denda) yang berat yaitu: memerdekakan budak ber-iman, jika tidak mampu (memerdekakan budak) maka dia wajib puasa selama dua bulan berturut-turut, jika tidak mampu maka dia harus memberi makan enam puluh orang miskin.

2.    Makan dan minum. Apapun bentuk makan dan minumnya.

3.    Melakukan suntikan yang mengan-dung zat makanan.
4.    Keluarnya darah haidh dan nifas.
5.    Mengeluarkan darah dengan sengaja. Adapun keluarnya darah dengan sendiri-nya seperti mimisan tidaklah mem-batalkan.
 
6.    Muntah dengan sengaja.
Jika muntah tanpa sengaja tidaklah membatalkan.
7.    Keluar mani dalam keadaan terjaga,
baik dengan onani, bercumbu, mencium atau semacamnya. Adapun mengeluarkan mani ketika tidur, tidak membatalkan puasa.

Syarat-Syarat Batalnya Puasa

1.    Mengerti. Jika seseorang melakukan perkara yang membatalkan puasa karena ketidaktahuannya maka tidaklah memba-talkan, berdasarkan firman Allah Ta’ala:

“Dan tidak ada dosa atasmu terhadap apa yang kamu khilaf padanya, tetapi yang (ada dosanya) apa yang disengaja oleh hatimu. Dan Allah Maha Pengampun lagi Maha Penyayang”             (QS. al-Ahzab : 5)

2.    Sadar. Jika seseorang lupa ketika melakukan perbuatan yang membatalkan, maka puasanya sah dan dia tidak wajib meng-qadha-nya.

3. Kehendak sendiri.    Jika seseorang dipaksa (untuk berbuka) maka puasanya sah dan tidak meng-qadha, sebagaimana hadits Rasulullah:

« إِنَّ اللهَ تَجَاوَزَ عَنْ أُمَّتِي الْخَطَأَ وَالنِّسْيَانَ وَمَا اسْتُكْرِهُوا عَلَيهِ »
 
“Sesungguhnya Allah melampaui (meng-ampuni) ummatku yang melakukan kesa-lahan, kelupaan dan yang terpaksa”
(Riwayat Ibnu Majah dan Baihaqi dan Imam Nawawi menyatakannya Hasan).
   
Di antara Hukum-Hukum Puasa

1. Wajib melakukan niat pada malam harinya sebelum terbitnya fajar, jika telah  jelas masuk Ramadhan, berdasarkan hadits Rasulullah:
 

« مَنْ لَمْ يَجْمَعِ الصِّيَامَ قَبْلَ الْفَجْرِ فَلاَ صِيَامَ لَهُ »

 “Siapa yang tidak niat  puasa sebelum fajar maka tidak ada puasa baginya”

Niat tempatnya dalam hati dan tidak perlu diucapkan.

2. Keutamaan sahur dan mengakhirkan-nya. Rasulullah telah memerintahkan sahur untuk membedakan antara puasa kita dengan puasa ahli kitab, beliau J  bersabda:

« فَصْلُ مَا بَيْنَ صِيَامِنَا وَصَوْمِ أَهْلِ الْكِتاَبِ أَكَلَةُ السَّحُورِ»         
 
“Yang membedakan antara puasa kita dengan puasa ahli kitab adalah makan sahur “      
(Riwayat Muslim)

Disunnahkan mengakhirkan sahur hing-ga beberapa saat sebelum fajar. Terdapat riwayat dari Zaid, dia berkata :

“Kami sahur bersama Nabi, lalu beliau bangkit untuk melaksanakan shalat”. Dia (Zaid) ditanya: ”Berapa lama jarak antara azan dan sahur?”, Dia menjawab: “sekedar (membaca) lima puluh ayat”   (Muttafaq alaih)

 
3. Puasa bukan hanya sekedar menahan makan dan minum semata. Lebih dari itu puasa juga berarti (menahan) anggota badan dari setiap perbuatan dosa.
Maka sebagaimana makan dan minum membatalkan puasa, begitu juga perbuatan dosa dapat menghapus pahala dan merusak nilai puasa hingga menjadikan-nya bagaikan orang yang tidak puasa.

4. Disunnahkan bersiwak saat puasa Rasulullah bersabda:

« لَوْ لاَ أَنْ أَشُقَّ عَلَى أُمَّتِي لأَمَرْتُهُمْ بِالسِّوَاكِ عِنْدَ كُلِّ    وُضُوءٍ »
 
“Seandainya tidak memberatkan ummatku, niscaya akan aku perintahkan mereka untuk bersiwak setiap hendak wudhu”    (Muttafaq alaih)

Hadits ini tidak mengkhususkan puasa dari yang lainnya, dan ini merupakan dalil bahwa siwak tetap disunnahkan bagi orang yang berwudhu atau setiap hendak shalat, baik dia sedang puasa ataupun tidak, jadi sifatnya umum untuk semua waktu, baik sebelum tergelincirnya mata-hari (waktu Zuhur) ataupun sesudahnya.

5. Berkumur dan tidak berlebih-lebihan dalam memasukkan air ke dalam hidung, Rasulullah bersabda kepada  Laqith bin Sabrah:

« وَبَالِغْ فِي اْلاِسْتِنْشَاقِ إِلاَّ أَنْ تَكُونَ صَائِماً » 
 
“Bersungguh-sungguhlah dalam memasukkan  air ke dalam hidung kecuali jika kamu dalam keadaan puasa”
(Riwayat Turmuzi, Abu Daud, Ibnu Majah, An-Nasa’i dengan sanad yang shahih)

6. Sah puasa orang yang masuk waktu Shubuh dalam keadaan junub (berhadats besar):

“Termasuk yang terjadi pada Rasulullah saat masuk waktu Fajar beliau dalam keadaan junub setelah berhubungan dengan istrinya, kemudian dia mandi setelah Fajar dan meneruskan puasanya“ .            (Muttafaq alaih)

7. Mempercepat Ifthor (berbuka puasa). Ifthor hendaknya dilakukan saat matahari terbenam.
Mempercepat ifthor merupakan tinda-kan yang mengikuti sunnah Rasulullah, karena beliau bersabda:

« لاَ تَزَالُ أُمَّتِي عَلَى سُنَّتِي مَالَمْ تَنْتَظِرْ بِفِطْرِهَا النُّجُومَ »

“Ummatku akan selalu berada dalam sunnah-ku selama dia tidak menunggu bintang-bintang (waktu malam) untuk berbuka” 
 (Ibnu Hibban dengan sanad yang shahih)

8. Memberi makan orang yang puasa. Hendaknya setiap orang berupaya untuk memberi makan bagi orang yang berbuka, karena di dalamnya terdapat pahala yang besar dan kebaikan yang banyak. Rasulullah bersabda :

« مَنْ فَطَّرَ صَائِماً شَيْئاً كَانَ لَهُ مِثْلُ  أَجْرِهِ غَيْرَ أَنَّهُ لاَ يَنْقُصُ مِنْ أَجْرِ الصَّائِمِ شَيْئاً  »

“Siapa yang memberi makan orang yang puasa maka baginya (pahala puasa) orang itu, tanpa mengurangi pahala orang yang puasa tersebut” 
(Riwayat Ahmad, Tirmizi dan dia menshahihkannya begitu juga Ibnu Majah dan Ibnu Hibban)

9. Adalah dahulu Rasulullah berbuka dengan beberapa ruthob (korma muda) sebelum shalat, jika tidak ada, maka dengan beberapa tamr (korma matang), jika tidak ada, maka dia cukup meminum beberapa teguk air”.
(Riwayat shahih dari Ahmad, Abu Daud, Ibnu Khuzaimah )

Jika berbuka beliau membaca:
 

ذَهَبَ الظَّمَأُ وَابْتَلَّتِ العُرُوقُ وَثَبَتَ الأجْرُ إنْ شَاءَ الله

Telah hilang dahaga dan urat-urat telah basah dan pahala telah tetap Insya Allah.

Ketika ifthor beliau selalu berdoa, karena bagi orang yang puasa -pada saat itu- doanya mustajabah (terkabul). Rasulullah bersabda :

« ثَلاَثةٌ لاَ تُرَدُّ دَعْوَتُهُمْ: الصَّائِمُ حِينَ يُفْطِرُ ، وَاْلإِمَامُ الْعَادِلُ، وَدَعْوَةُ الْمَظْلُوم »

“Ada tiga golongan yang doanya tidak ditolak : Orang yang puasa saat dia ifthor (berbuka), Imam (pemimpin) yang adil, dan doa orang yang dizolimi” (Tirmizi, Ibnu Majah dan Ibnu Hibban)

Perbuatan Yang Tidak Membatalkan Puasa

•    Periksa darah dan suntik yang tujuannya tidak untuk memasukkan zat makanan.

•    Mencicipi  masakan, dengan    syarat: tidak sampai masuk ke dalam kerong-kongan, sebagaimana riwayat dari Ibnu Abbas radiallahuanhuma:

“Tidak mengapa mencicipi cuka atau sesuatu saat dia sedang puasa selama tidak masuk ke dalam kerongkongan”.

•    Boleh menggunakan celak mata atau tetes mata atau semacamnya yang dimasukkan ke dalam mata, hal tersebut tidak membatalkan puasa, baik orang tersebut merasakan sesuatu ditenggoro-kannya atau tidak.

•    Boleh menuangkan air dingin di atas kepala atau mandi dengannya.

Terdapat riwayat bahwa Rasulullah menuangkan air di atas kepalanya saat dia sedang puasa karena kehausan atau kepanasan.   (Riwayat Abu Daud dan Ahmad)

 
•    Boleh menelan ludah, namun jika berupa lendir hendaklah dikeluarkan.
 
•    Boleh menggunakan minyak wangi dan menciumnya. 

Yang Seharusnya Dijauhi Bagi Orang Yang Puasa

•    Berkata dusta:

Rasulullah  bersabda:

« مَنْ لَمْ يَدَعْ قَوْلَ الزُّورِ وَالْعَمَلَ بِهِ  فَلَيْسَ للهِ –عَزَّ وَجَلَّ- حَـاجَةٌ فِي أَنْ يَـدَعَ  طَعَـامَهُ وَشَرَابَهُ » 
 
“Siapa yang tidak meninggalkan perkataan dusta dan perbuatan buruk, maka tidak ada bagi Allah Ta’ala nilainya dia meninggalkan makanan dan minumannya”    (Riwayat Bukhari)

•    Perbuatan sia-sia dan perkataan kotor:
Rasulullah  bersabda:

« لَيْسَ الصِّيَامُ مِنَ اْلأَكْلِ وَالشُّرْبِ، إِنَّماَ الصِّيَامُ مِنَ اللَّغْوِ وَالرَّفَثِ »

 
“Puasa bukan hanya (menahan) makan dan minum saja, akan tetapi puasa juga (menahan) dari perbuatan sia-sia dan perkataan kotor “ 
 (Riwayat Ibnu Khuzaimah dan Hakim)

Oleh karena itu terdapat ancaman yang berat bagi orang-orang yang melaku-kan perbuatan tersebut, yaitu mereka akan dimasukkan ke dalam golongan orang-orang yang Rasulullah katakan dalam haditsnya :

« رُبَّ صَائِمٍ حَظُّهُ مِنْ صِيَامِهِ الْجُوعُ وَالْعَطَشُ »

“Betapa banyak orang yang puasa tidak mendapatkan apa-apa dari puasanya kecuali lapar dan dahaga” (Riwayat Ibnu Majah, Ad-Darimi, Ahmad dan Baihaqi dengan sanad yang shahih).

Rekap pilkada Se-Indonesia.

Rekap Pemilihan Kepala Daerah

  Nama Daerah Pemenang & Partai Pengusung Persen
1. BALI Made Mangku Pastika-AA Ngurah Puspayoga
PDIP
56,82%
2. BANGKA BELITUNG Eko Maulana Ali-Syamsuddin Basaari
PKS,PBB,PAN,PD,PSI,PELOPOR, PATRIOT
35.36%
3. BANTEN Ratu Atut Chosiyah-M. Masduki
PG.PDIP,PBR,PBB,PDS
40.15%
4. BENGKULU AGUSRIN M.N-SYAMLAN
PKS,PBR
59.82%
5. DI YOGYAKARTA Sep-08  
6. DKI JAKARTA Fauzi Bowo-Prijanto
PG, PDIP, PD, PPP,PBB, PDS, (20 PARTAI)
57, 73%
7. GORONTALO Fadel Mohammad-Gusnar Ismail
PG,PAN,PKS,PKB,PPP
81.24%
8. JAMBI Zulkifli Nurdin-Anthony Z. Abidin
Golkar
81.50%
9. JAWA BARAT Ahmad Heryawan-Dede Yusuf
PKS,PAN
40.40%
10. JAWA TENGAH Bibit Waluyo-Rustriningsih
PDIP
40%
11. JAWA TIMUR Menunggu hasil putaran kedua  
12. KALIMANTAN BARAT Cornelys-Christiady Sanjaya
PDIP
43.67%
13. KALIMANTAN SELATAN Rudi Arifin-Nur Rosehan
PPP, PKB
32.06%
14. KALIMANTAN TENGAH Agustin Teras Narang-Ahmad Diran
PDIP
51.40%
15. KALIMANTAN TIMUR menunggu hasil putaran ke 2  
16. KEPULAUAN RIAU Ismeth Abdullah-HM Sani
Golkar, PKS, PPP
60.66%
17. LAMPUNG Sep-08  
18. MALUKU Karel Albert Ralahalu-Said Assegaf
PDIP`
64%
19. MALUKU UTARA sengketa  
20. NANGROE ACEH DARUSSALAM Irwandi Yusuf -Muhammad Nazar
INDEPENDENT
38.20%
21. NUSA TENGGARA BARAT Tuanku Guru Bajang KHM Zaenul Majdi-Badrul Munir
PKS & PBB
39.40%
22. NUSA TENGGARA TIMUR Frans Lebu Raya-Esthon Foenay
PDIP
37%
23. PAPUA Barnabas Suebu-Alex Hesegam
PDIP,PBSD
30.23%
24. PAPUA BAAT Abraham O Atutiri-Rahimin Katjong
PDIP,PBSD,PDK,PNIM,PD,PPDI,PNBK,PATRIOT
60.90%
25. RIAU 22-Sep-08  
26. SULAWESI BARAT Anwar Adnan Saleh-Amri Sanusi
Golkar
45.52%
27. SULAWESI SELATAN Syahrul Yasin Limpo-Agus Arifin Nu’mang
PDIP,PAN,PDS,PDK
39.53%
28. SULAWESI TENGAH Bandjela Paliudju-Achmad Yahya
PBB,PAN,PKPI,PKB
36.44%
29. SULAWESI TENGGARA Nur Alam-Saleh Lasata
PAN,PBR
42.78%
30. SULAWESI UTARA Sinyo Sarundayang-Freddy Sualang
PDIP
39.90%
31. SUMATERA BARAT Gamawan Fauzy-Marlis Rahman
PDIP-PBB
51.86%
32. SUMATERA UTARA Syamsul Arifin-Gatot Pujo Nugroho
PPP,PBB, PKS, PM, PrtPP,PKPB
28.31%
33. SUMATRA SELATAN 30 Agustus 2008  

Sumber: Bapilu DPP PKS, Update: 29 Juli 2008

membina militansi (alm.Rahmad abdullah)

Sejarah telah diwarnai, dipenuhi dan diperkaya oleh orang-orang yang sungguh-sungguh. Bukan oleh orang-orang yang santai, berleha-leha dan berangan-angan. Dunia diisi dan dimenangkan oleh orang-orang yang merealisir cita-cita, harapan dan angan-angan mereka dengan jiddiyah (kesungguh-sungguhan) dan kekuatan tekad.

Ba’da tahmid wa shalawat

Ikhwah rahimakumullah, Allah SWT berfirman di dalam Al-Qur’an Surat 19 Ayat 12 : …..
Ya Yahya hudzil kitaaba bi quwwah …” (QS. Maryam (19):12)

Tatkala Allah SWT memberikan perintah kepada hamba-hamba-Nya yang ikhlas, Ia tak hanya menyuruh mereka untuk taat melaksanakannya melainkan juga harus mengambilnya dengan quwwah yang bermakna jiddiyah, kesungguhan-sungguhan.

Sejarah telah diwarnai, dipenuhi dan diperkaya oleh orang-orang yang sungguh-sungguh. Bukan oleh orang-orang yang santai, berleha-leha dan berangan-angan. Dunia diisi dan dimenangkan oleh orang-orang yang merealisir cita-cita, harapan dan angan-angan mereka dengan jiddiyah (kesungguh-sungguhan) dan kekuatan tekad.

Namun kebatilan pun dibela dengan sungguh-sungguh oleh para pendukungnya, oleh karena itulah Ali bin Abi Thalib ra menyatakan: “Al-haq yang tidak ditata dengan baik akan dikalahkan oleh Al-bathil yang tertata dengan baik”.

Ayyuhal ikhwah rahimakumullah,
Allah memberikan ganjaran yang sebesar-besarnya dan derajat yang setinggi-tingginya bagi mereka yang sabar dan lulus dalam ujian kehidupan di jalan dakwah. Jika ujian, cobaan yang diberikan Allah hanya yang mudah-mudah saja tentu mereka tidak akan memperoleh ganjaran yang hebat. Di situlah letak hikmahnya yakni bahwa seorang da’i harus sungguh-sungguh dan sabar dalam meniti jalan dakwah ini. Perjuangan ini tidak bisa dijalani dengan ketidaksungguhan, azam yang lemah dan pengorbanan yang sedikit.

Ali sempat mengeluh ketika melihat semangat juang pasukannya mulai melemah, sementara para pemberontak sudah demikian destruktif, berbuat dan berlaku seenak-enaknya. Para pengikut Ali saat itu malah menjadi ragu-ragu dan gamang, sehingga Ali perlu mengingatkan mereka dengan kalimatnya yang terkenal tersebut.

Ayyuhal ikhwah rahimakumullah,
Ketika Allah menyuruh Nabi Musa as mengikuti petunjuk-Nya, tersirat di dalamnya sebuah pesan abadi, pelajaran yang mahal dan kesan yang mendalam:

“Dan telah Kami tuliskan untuk Musa pada luh-luh (Taurat) segala sesuatu sebagai pelajaran dan penjelasan bagi segala sesuatu; maka (Kami berfirman): “Berpeganglah kepadanya dengan teguh dan suruhlah kaummu berpegang teguh kepada perintah-perintahnya dengan sebaik-baiknya, nanti Aku akan memperlihatkan kepadamu negeri orang-orang yang fasiq”.(QS. Al-A’raaf (7):145)

Demikian juga perintah-Nya terhadap Yahya, dalam surat Maryam ayat 12 :

“Hudzil kitaab bi quwwah” (Ambil kitab ini dengan quwwah). Yahya juga diperintahkan oleh Allah untuk mengemban amanah-Nya dengan jiddiyah (kesungguh-sungguhan). Jiddiyah ini juga nampak pada diri Ulul Azmi (lima orang Nabi yakni Nuh, Ibrahim, Musa, Isa, Muhammad yang dianggap memiliki azam terkuat).

Dakwah berkembang di tangan orang-orang yang memiliki militansi, semangat juang yang tak pernah pudar. Ajaran yang mereka bawa bertahan melebihi usia mereka. Boleh jadi usia para mujahid pembawa misi dakwah tersebut tidak panjang, tetapi cita-cita, semangat dan ajaran yang mereka bawa tetap hidup sepeninggal mereka.

Apa artinya usia panjang namun tanpa isi, sehingga boleh jadi biografi kita kelak hanya berupa 3 baris kata yang dipahatkan di nisan kita: “Si Fulan lahir tanggal sekian-sekian, wafat tanggal sekian-sekian”.

Hendaknya kita melihat bagaimana kisah kehidupan Rasulullah saw dan para sahabatnya. Usia mereka hanya sekitar 60-an tahun. Satu rentang usia yang tidak terlalu panjang, namun sejarah mereka seakan tidak pernah habis-habisnya dikaji dari berbagai segi dan sudut pandang. Misalnya dari segi strategi militernya, dari visi kenegarawanannya, dari segi sosok kebapakannya dan lain sebagainya.

Seharusnyalah kisah-kisah tersebut menjadi ibrah bagi kita dan semakin meneguhkan hati kita. Seperti digambarkan dalam QS. 11:120, orang-orang yang beristiqomah di jalan Allah akan mendapatkan buah yang pasti berupa keteguhan hati. Bila kita tidak kunjung dapat menarik ibrah dan tidak semakin bertambah teguh, besar kemungkinannya ada yang salah dalam diri kita. Seringkali kurangnya jiddiyah (kesungguh-sungguhan) dalam diri kita membuat kita mudah berkata hal-hal yang membatalkan keteladanan mereka atas diri kita. Misalnya: “Ah itu kan Nabi, kita bukan Nabi. Ah itu kan istri Nabi, kita kan bukan istri Nabi”. Padahal memang tanpa jiddiyah sulit bagi kita untuk menarik ibrah dari keteladanan para Nabi, Rasul dan pengikut-pengikutnya.

Ayyuhal ikhwah rahimakumullah,
Di antara sekian jenis kemiskinan, yang paling memprihatinkan adalah kemiskinan azam, tekad dan bukannya kemiskinan harta.

Misalnya anak yang mendapatkan warisan berlimpah dari orangtuanya dan kemudian dihabiskannya untuk berfoya-foya karena merasa semua itu didapatkannya dengan mudah, bukan dari tetes keringatnya sendiri. Boleh jadi dengan kemiskinan azam yang ada padanya akan membawanya pula pada kebangkrutan dari segi harta. Sebaliknya anak yang lahir di keluarga sederhana, namun memiliki azam dan kemauan yang kuat kelak akan menjadi orang yang berilmu, kaya dan seterusnya.

Demikian pula dalam kaitannya dengan masalah ukhrawi berupa ketinggian derajat di sisi Allah. Tidak mungkin seseorang bisa keluar dari kejahiliyahan dan memperoleh derajat tinggi di sisi Allah tanpa tekad, kemauan dan kerja keras.

Kita dapat melihatnya dalam kisah Nabi Musa as. Kita melihat bagaimana kesabaran, keuletan, ketangguhan dan kedekatan hubungannya dengan Allah membuat Nabi Musa as berhasil membawa umatnya terbebas dari belenggu tirani dan kejahatan Fir’aun.

Berkat do’a Nabi Musa as dan pertolongan Allah melalui cara penyelamatan yang spektakuler, selamatlah Nabi Musa dan para pengikutnya menyeberangi Laut Merah yang dengan izin Allah terbelah menyerupai jalan dan tenggelamlah Fir’aun beserta bala tentaranya.

Namun apa yang terjadi? Sesampainya di seberang dan melihat suatu kaum yang tengah menyembah berhala, mereka malah meminta dibuatkan berhala yang serupa untuk disembah. Padahal sewajarnya mereka yang telah lama menderita di bawah kezaliman Fir’aun dan kemudian diselamatkan Allah, tentunya merasa sangat bersyukur kepada Allah dan berusaha mengabdi kepada-Nya dengan sebaik-baiknya. Kurangnya iman, pemahaman dan kesungguh-sungguhan membuat mereka terjerumus kepada kejahiliyahan.

Sekali lagi marilah kita menengok kekayaan sejarah dan mencoba bercermin pada sejarah. Kembali kita akan menarik ibrah dari kisah Nabi Musa as dan kaumnya.

Dalam QS. Al-Maidah (5) ayat 20-26 : “Dan (ingatlah) ketika Musa berkata kepada kaumnya: “Hai kaumku, ingatlah nikmat Allah atasmu, ketika Dia mengangkat nabi-nabi di antaramu, dan dijadikan-Nya kamu orang-orang merdeka dan diberikan-Nya kepadamu apa yang belum pernah diberikan-Nya kepada seorangpun di antara umat-umat yang lain”.

“Hai, kaumku, masuklah ke tanah suci (Palestina) yang telah ditentukan Allah bagimu, dan janganlah kamu lari ke belakang (karena takut kepada musuh), maka kamu menjadi orang-orang yang merugi”.

“Mereka berkata: “Hai Musa, sesungguhnya dalam negri itu ada orang-orang yang gagah perkasa, sesungguhnya kami sekali-kali tidak akan memasukinya sebelum mereka keluar dari negri itu. Jika mereka keluar dari negri itu, pasti kami akan memasukinya”.

“Berkatalah dua orang di antara orang-orang yang takut (kepada Allah) yang Allah telah memberi nikmat atas keduanya: “Serbulah mereka dengan melalui pintu gerbang (kota) itu, maka bila kamu memasukinya niscaya kamu akan menang. Dan hanya kepada Allah hendaknya kamu bertawakkal, jika kamu benar-benar orang yang beriman”.

“Mereka berkata: “Hai Musa kami sekali-kali tidak akan memasukinya selama-lamanya selagi mereka ada di dalamnya, karena itu pergilah kamu bersama Tuhanmu dan berperanglah kamu berdua, sesungguhnya kami hanya duduk menanti di sini saja”.

“Berkata Musa: “Ya Rabbku, aku tidak menguasai kecuali diriku sendiri dan saudaraku. Sebab itu pisahkanlah antara kami dengan orang-orang yang fasiq itu”.

“Allah berfirman: “(Jika demikian), maka sesungguhnya negri itu diharamkan atas mereka selama empat puluh tahun, (selama itu) mereka akan berputar-putar kebingungan di bumi (padang Tiih) itu. Maka janganlah kamu bersedih hati (memikirkan nasib) orang-orang yang fasiq itu”.
Rangkaian ayat-ayat tersebut memberikan pelajaran yang mahal dan sangat berharga bagi kita, yakni bahwa manusia adalah anak lingkungannya. Ia juga makhluk kebiasaan yang sangat terpengaruh oleh lingkungannya dan perubahan besar baru akan terjadi jika mereka mau berusaha seperti tertera dalam QS. Ar-Ra’du (13):11, “Sesungguhnya Allah tidak akan merubah nasib suatu kaum, sampai mereka berusaha merubahnya sendiri”.

Nabi Musa as adalah pemimpin yang dipilihkan Allah untuk mereka, seharusnyalah mereka tsiqqah pada Nabi Musa. Apalagi telah terbukti ketika mereka berputus asa dari pengejaran dan pengepungan Fir’aun beserta bala tentaranya yang terkenal ganas, Allah SWT berkenan mengijabahi do’a dan keyakinan Nabi Musa as sehingga menjawab segala kecemasan, keraguan dan kegalauan mereka seperti tercantum dalam QS. Asy-Syu’ara (26):61-62, “Maka setelah kedua golongan itu saling melihat, berkatalah pengikut-pengikut Musa: “Sesungguhnya kita benar-benar akan tersusul”. Musa menjawab: “Sekali-kali tidak akan tersusul; sesungguhnya Rabbku bersamaku, kelak Dia pasti akan memberi petunjuk kepadaku”.

Semestinya kaum Nabi Musa melihat dan mau menarik ibrah (pelajaran) bahwa apa-apa yang diridhai Allah pasti akan dimudahkan oleh Allah dan mendapatkan keberhasilan karena jaminan kesuksesan yang diberikan Allah pada orang-orang beriman. Allah pasti akan bersama al-haq dan para pendukung kebenaran. Namun kaum Nabi Musa hanya melihat laut, musuh dan kesulitan-kesulitan tanpa adanya tekad untuk mengatasi semua itu sambil di sisi lain bermimpi tentang kesuksesan. Hal itu sungguh merupakan opium, candu yang berbahaya. Mereka menginginkan hasil tanpa kerja keras dan kesungguh-sungguhan. Mereka adalah “qaumun jabbarun” yang rendah, santai dan materialistik. Seharusnya mereka melihat bagaimana kesudahan nasib Fir’aun yang dikaramkan Allah di laut Merah.

Seandainya mereka yakin akan pertolongan Allah dan yakin akan dimenangkan Allah, mereka tentu tsiqqah pada kepemimpinan Nabi Musa dan yakin pula bahwa mereka dijamin Allah akan memasuki Palestina dengan selamat.

Bukankah Allah SWT telah berfirman dalam QS. 47:7, “In tanshurullah yanshurkum wayutsabbit  bihil aqdaam” (Jika engkau menolong Allah, Allah akan menolongmu dan meneguhkan pendirianmu).
Hendaknya jangan sampai kita seperti Bani Israil yang bukannya tsiqqah dan taat kepada Nabi-Nya, mereka dengan segala kedegilannya malah menyuruh Nabi Musa as untuk berjuang sendiri. “Pergilah engkau dengan Tuhanmu”. Hal itu sungguh merupakan kerendahan akhlak dan militansi, sehingga Allah mengharamkan bagi mereka untuk memasuki negri itu. Maka selama 40 tahun mereka berputar-putar tanpa pernah bisa memasuki negri itu.

Namun demikian, Allah yang Rahman dan Rahim tetap memberi mereka rizqi berupa ghomama, manna dan salwa, padahal mereka dalam kondisi sedang dihukum.

Tetapi tetap saja kedegilan mereka tampak dengan nyata ketika dengan tidak tahu dirinya mereka mengatakan kepada Nabi Musa tidak tahan bila hanya mendapat satu jenis makanan.

Orientasi keduniawian yang begitu dominan pada diri mereka membuat mereka begitu kurang ajar dan tidak beradab dalam bersikap terhadap pemimpin. Mereka berkata: “Ud’uulanaa robbaka” (Mintakan bagi kami pada Tuhanmu). Seyogyanya mereka berkata: “Pimpinlah kami untuk berdo’a pada Tuhan kita”.

Kebodohan seperti itu pun kini sudah mentradisi di masyarakat. Banyak keluarga yang berstatus Muslim, tidak pernah ke masjid tapi mampu membayar sehingga banyak orang di masjid yang menyalatkan jenazah salah seorang keluarga mereka, sementara mereka duduk-duduk atau berdiri menonton saja.

Rasulullah saw memang telah memberikan nubuwat atau prediksi beliau: “Kelak kalian pasti akan mengikuti kebiasaan orang-orang sebelum kalian selangkah demi selangkah, sejengkal demi sejengkal, sehasta demi sehasta dan sedepa demi sedepa”. Sahabat bertanya: “Yahudi dan Nasrani ya Rasulullah?”. Beliau menjawab: “Siapa lagi?”.

Kebodohan dalam meneladani Rasulullah juga bisa terjadi di kalangan para pemikul dakwah sebagai warasatul anbiya (pewaris nabi). Mereka mengambil keteladanan dari beliau secara tidak tepat. Banyak ulama atau kiai yang suka disambut, dielu-elukan dan dilayani padahal Rasulullah tidak suka dilayani, dielu-elukan apalagi didewakan. Sebaliknya mereka enggan untuk mewarisi kepahitan, pengorbanan dan perjuangan Rasulullah. Hal itu menunjukkan merosotnya militansi di kalangan ulama-ulama amilin.
Mengapa hal itu juga terjadi di kalangan ulama, orang-orang yang notabene sudah sangat faham. Hal itu kiranya lebih disebabkan adanya pergeseran dalam hal cinta dan loyalitas, cinta kepada Allah, Rasul dan jihad di jalan-Nya telah digantikan dengan cinta kepada dunia.

Mentalitas Bal’am, ulama di zaman Fir’aun adalah mentalitas anjing sebagaimana digambarkan di Al-Qur’an. Dihalau dia menjulurkan lidah, didiamkan pun tetap menjulurkan lidah. Bal’am bukannya memihak pada Musa, malah memihak pada Fir’aun. Karena ia menyimpang dari jalur kebenaran, maka ia selalu dibayang-bayangi, didampingi syaithan. Ulama jenis Bal’am  tidak mau berpihak dan menyuarakan kebenaran karena lebih suka menuruti hawa nafsu dan tarikan-tarikan duniawi yang rendah.

Kader yang tulus dan bersemangat tinggi pasti akan memiliki wawasan berfikir yang luas dan mulia. Misalnya, manusia yang memang memiliki akal akan bisa mengerti tentang berharganya cincin berlian, mereka mau berkelahi untuk memperebutkannya. Tetapi anjing yang ada di dekat cincin berlian tidak akan pernah bisa mengapresiasi cincin berlian. Ia baru akan berlari mengejar tulang, lalu mencari tempat untuk memuaskan kerakusannya. Sampailah anjing tersebut di tepi telaga yang bening dan ia serasa melihat musuh di permukaan telaga yang dianggapnya akan merebut tulang darinya. Karena kebodohannya ia tak tahu bahwa itu adalah bayangan dirinya. Ia menerkam bayangan dirinya tersebut di telaga, hingga ia tenggelam dan mati.

Kebahagiaan sejati akan diperoleh manusia bila ia tidak bertumpu pada sesuatu yang fana dan rapuh, dan sebaliknya justru berorientasi pada keabadian.

Nabi Yusuf as sebuah contoh keistiqomahan, ia memilih di penjara daripada harus menuruti hawa nafsu rendah manusia. Ia yang benar di penjara, sementara yang salah malah bebas.

Ada satu hal lagi yang bisa kita petik dari kisah Nabi Yusuf as. Wanita-wanita yang mempergunjingkan Zulaikha diundang ke istana untuk melihat Nabi Yusuf. Mereka mengiris-iris jari-jari tangan mereka karena terpesona melihat Nabi Yusuf. “Demi Allah, ini pasti bukan manusia”. Kekaguman dan keterpesonaan mereka pada seraut wajah tampan milik Nabi Yusuf membuat mereka tidak merasakan sakitnya teriris-iris.

Hal yang demikian bisa pula terjadi pada orang-orang yang punya cita-cita mulia ingin bersama para nabi dan rasul, shidiqin, syuhada dan shalihin. Mereka tentunya akan sanggup melupakan sakitnya penderitaan dan kepahitan perjuangan karena keterpesonaan mereka pada surga dengan segala kenikmatannya yang dijanjikan.

Itulah ibrah yang harus dijadikan pusat perhatian para da’i. Apalagi berkurban di jalan Allah adalah sekedar mengembalikan sesuatu yang berasal dari Allah jua. Kadang kita berat berinfaq, padahal harta kita dari-Nya. Kita terlalu perhitungan dengan tenaga dan waktu untuk berbuat sesuatu di jalan Allah padahal semua yang kita miliki berupa ilmu dan kemuliaan keseluruhannya juga berasal dari Allah. Semoga kita terhindar dari penyimpangan-penyimpangan seperti itu dan tetap memiliki jiddiyah, militansi untuk senantiasa berjuang di jalan-Nya. Amin.
Wallahu a’lam bis shawab

Catatan Untuk Murabbi: Setelah mendapatkan taujih ini diharapkan kader Memahami urgensi militansi kader dalam pemenangan dakwah serta memahami cara-cara membina militansi kader

motivasi ustad arqom

Alhamdulillah , ikhwah fillah hari ini kita bertemu dalam majelis dimana pekerjaan pekerjaan besar dakwah kita di jawa timur diputuskan secara kolektif. Dalam posisi dimana kita adalah para pemimpin dakwah maka kualitas kita dalam berpikir dan bertindak serta kualitas keputusan keputusan yang kita hasilkan bersama amat bepengaruh pada pencapian pencapaian keberhasilan dilapangan dakwah kita .

Secara strategis saya ingin mengajak kita semua yang hadir disini memikirkan beberapa persoalan penting berikut :

1.Visi Besar Kader
Sebagai pribadi pribadi yang tumbuh dan dibesarkan dalam medan dakwah tentu visi besar kita sebagai kader adalah : TAMKINUD DAKWAH
Tentu kita sama sama memahami akan firman Allah di surat An-Nur : ayat 55 berikut :

”Dan Allah telah berjanji kepada orang-orang yang beriman di antara kamu dan mengerjakan amal-amal yang saleh bahwa Dia sungguh- sungguh akan menjadikan mereka berkuasa dimuka bumi, sebagaimana Dia telah menjadikan orang-orang sebelum mereka berkuasa, dan sungguh Dia akan meneguhkan bagi mereka agama yang telah diridhai-Nya untuk mereka, dan Dia benar-benar akan menukar (keadaan) mereka, sesudah mereka dalam ketakutan menjadi aman sentausa. Mereka tetap menyembahku-Ku dengan tiada mempersekutukan sesuatu apapun dengan Aku. Dan barangsiapa yang (tetap) kafir sesudah (janji) itu, maka mereka itulah orang-orang yang fasik.”

Diayat ini Allah berjanji diantaranya adalah bahwa Dia akan men TAMKIN dakwah Islam dalam kehidupan kita .DR Ali Muhammad Ash Shalabi dalam Fiqh At Tamkin wa An Nashr memberi definsi TAMKIN (dg mengutif pendapat beberapa tokoh pergerakan dakwah )sebagai berikut :

1.Ustad Muhammad Sayid Muhammad Yusuf dalam At Tamkin li al Ummah al Islamiyah fi Dhaw al Qur’an al Karim : Studi tentang sebab sebab yg menyebabkan kekokohan dan kekuatan ummat ini , serta pilar pilar yg bisa mengembalikan ummat ini pada kekokohan dan kemapanan , juga hambatan yg menghadang proses menuju kekohan dan kemapanan ….
2.DR.Ali Abdul Halim dalam Fiqh Al Dakwah ilaa Allah : ………..Kekokohan ini diawali dg adanya kemenangan , kekuatan dan kekuasaan yg disertai adanya rasa aman setelah adanya rasa takut yg mencekam
3. Fathi Yakan dalam Al-Mujtama’ no 1249 6 Muharram 1418 H atau 13 Mei 1997 :Tamkin adalah sampainya pada kondisi kemenangan ,memiliki kekuatan yg cukup serta memegang tampuk kekuatan dan kekuasaan ,juga dukungan publik ,simpatisan dan pengikut .Ini bentuk pengokohan eksitensi diatas bumi dan kemuliaan dalam semua urusan

Yang perlu kita pikirkan sebagai pemimpin dakwah kemudian adalah bahwa TAMKIN dari Allah itu tidak akan terwujud manakala kita belum mampu merealisir Sebab Sebab Tamkin . Mengutip DR Ali Muhammad Ash Shalabi lagi ,Sebab Sebab Tamkin adalah sebagai berikut :

A.Sebab Maknawi
1.Mempersiapkan Individu Rabbaniyyin
2.Mencetak Qiyadah Rabbani
3.Memerangi Sebab Sebab Perpecahan
4.Mengambil Akar Persatuan dan Kesatuan

B.SebabSebab Material
1.Membangun Konsentrasi ,Spesialisasi,dan Pusat Pusat Riset
2.Melakukan Perencanaadan Manajemen
3.Memersiapan Ekonomi
4.Mebangun Persiapan dalam Bidang Informasi
5.MebangunPersiapanKeamananTamkin

2.Pembaruan Diri secara Terus Menerus
Ikhwah fillah kaidah kepemimpinan mengatakan: perubahan kualitas pemimpin berarti perubahan kulitas kinerja organisasi, ujungnya ujungnya tentu saja adalah percepatan pencapaian cita cita dakwah kita . Pada salah buku John Maxwell yg sempat saya baca (DEVELOPING THE LEADER WITHIN YOU) , rasanya apa yang diungkapkannya ada benarnya bahwa lima dari dua belas masalah bagi seorang pemimpin berikut ini ada hubungannya dg ketidak sediaan untuk berubah .Itulah yg menimbulkan masalah bagi organisasinya.Seorang pemimpin yg bermasalah …..
*Punya pemahaman yg buruk atas orang lain
*Kurang imajinasi
*Punya masalah pribadi
*Mengalihkan tanggung jawab
*Merasa aman dan puas
*Tidak terorganisasikan
*Mudah meledak kemarahannya
*Tidak mau mengambil resiko
*Merasa tidak aman dan defensif
*Tidak mau bersikap lentur
*Tidak punya semangat tim
*Melawan perubahan

Memang tuntutannya kemudian adalah kesediaan kita untuk secara sadar terus melakukan pembaruan diri . Secara teknis dibeberapa forum pertemuan kader saya mengajukan formula pembaruan diri sebagai berikut :
Langkah Pertama :
Menerapkan satu perencanaan mingguan dan menyediakan sedikit waktu padaMinggu malam misalnya , untuk berhubungan dg visi anda .Visi anda akan berperan sebagai mercusuar pribadi ,menawarkan bimbingan dan menjaga agar anda tetap berada diarah yang benar
Langkah Kedua
Menelaah kemenangan tahunan anda -tujuan tujuan yg telah ada tentukan harus anda capai tahun ini – untuk tetap bergerak maju .
Langkah Katiga
Proses memingkirkan serangkaian kemenangan minggua, atau tujuan tujuan kecil yg harus anda capai dalam minggu mendatang
Langkah Keempat
Mengharuskan anda menjadwalkan nya dalam hari hari anda dg menerapkan teknik pemisahan waktu strategis .Jadwalkan setiap aktivitas ke dalam hari yg ditetapkan untuknya dan pastikan bahwa aktivitas itu dilakukan .
Langkah Kelima
Perenungan Teratur :Saat anda merencanakan minggu yg akan datang ,ambilla beberapa saat untuk secara mendalam mempertimbangkan minggu yg baru saja anda lalui .Apakah anda melakukan apa yg anda rencanakan , pada saat anda merencanakan untuk melakukannya .Bila tidak ,mengapa tidak ?Apakah yg akan anda lakukan secara berbeda bila anda memiliki kesempatan untuk menjalani minggu tersebut sekali lagi?

3.Karena kita adalah Pemimpin

Ikhwah fillah mungkin tidak banyak yang serius diantara kita memikirkan kalimat waj’alna lil muttaqiina imaama . Tapi coba simak pernyataan Bernard Lewis seorang orientalis Yahudi berikut : “ Sesungguhnya ketidakadaan pemimpin modern terpelajar ; pemimpin yang benar benar melakukan semua pengabdiannya untuk Islam , sesuai dengan tuntutan zaman baik dalam bidang pengetahuan maupun organisasi , telah membelenggu gerakan Islam untuk menjadi kekuatan yang menang . Maka hendaknya pemimpin semisal ini dicegah kemunculannya , untuk menjadi sebuah sebuah kekuatan yang mengendalikan kekuatan dunia Islam .Gerakan ini sangat mungkin untuk berubah menjadi sebuah kekuatan politik yang besar jika ada pemimpin pemimpin yang kapabel untuk itu “ Sementara orientalis lainnya Montgomery Watt yang berkebangsaan Inggris mengatakan :” Jika didapatkan seorang pemimpin yang cocok yang berbicara sesuai dengan Islam , maka sangat mungkin bagi agama ini untuk muncul kembali sebagai sebuah kekuatan politik terbesar didunia “ .

Nah iya kan . Oleh karena nya mari kita mulai perubahan dari posisi kita sebagai pemimpin. Bismillah .

MOTIVASI KEPEMIMPINAN UST.ARQOM

Ikhwah dan akhwat fillah
Mari kita simak fakta fakta berikut .

1. Ketika Nabi kita memimpin operasi militer pada Perang Badar di tahun 624 M kekuatan pasukannya masih terdiri dari 313 dengan perlengkapan tidak memadai dan 3 ekor kuda .
2. Setahun kemudian ketika terjadi Perang Uhud armada terpur beliau sudah berjumlah 700 orang dengan 100 orang diantarnya telah mengenakan pakaian perang lengkap serta dilengkapi dengan 50 pasukan berkuda dan 50 pasukan pemanah
3. Pada saat terjadi Perang Ahzab ditahun 627 M armada tempur yang beliau pimpin sudah berkekuatan 3000 orang
4. Dan ketika Mekkah ditaklukkan pada Perang Fathu Makkah di tahun 630 M beliau secara menakjubkan telah memimpin pasukan sebanyak 10.000 orang
5. Lalu dua bulan setelah Perang Fathu Makkah itu pada Perang Hunain beliau telah memiliki kekuatan militer sebanyak 12.000 orang .
Ikhwah dan akhwat fillah .
Apa sesungguhnya yang menjadi kunci sukses bagi pertumbuhan kemampuan dan kekuatan militer generasi Islam pertama ini ? Afzalur Rahman ( bukan Fazlur Rahman ) menganalisi fenomena ini dalam Muhammad as Military Leader sebagai buah dari kekuatan kepemimpinan beliau .

Memang keberhasilan dari suatu operasi militer akan secara alamiah tergantung pada kreativitas kreativitas tertinggi dari pemimpin militer .Kemenangan akan dicampai tergantung pada bagaimana seorang pemimpin militer dapat menggunakan faktot factor tersebut dalam operasi strategis militernya dan diatas semuat itu , mengerjakannya sebelum dan lebih baik dari musuh musuhnya .Ia juga bergantung pada bagaimana sang pemimpin dapat mengorgansir serangan serangannya , juga memelihara kerahasiaan rencana rencana tempurnya , lebih baik dan lebih efektif dari musuh musuhnya. Sebagaimana ia juga bergantung pada kemampuan nya dalam memanfaatkan sumber daya tempurnya yang terbatas dan minimal untuk meraih kemenangan maksimal. Nah Nabi kitia dianugrahi kapasitas untuk melakukan fungsi kepemimpinan itu semua .

Pengamatan lebih makro disampaikan oleh seorang intelektual Amerika kelahiran Palestina Jhon L Esposito dalam Islam The Straight Path : “ Yang paling mencengankan tentang perluasan Islam dimasa awal adalah kecepatan dan keberasilannya .Para pakar Barat merasa takjub akan hal ini ….Dalam sepuluh tahun pasukan Arab menaklukkan angkatan perang Bizantium dan Persia dan menguasai Irak , Suriah , Palestina , Persia dan Mesir .Pasukan Muslim tampi sebagai penakluk yang sulit terkalahkan dan penguasa yang berhasil , pembangun dan bukan perusak …”( 1998 , hal 33 ) .

Ikhwah dan akhwat fillah

Disinilah kita kemudian semakin menyadari perlunya semakin mengembangkan kapasitas kepemimpinan kita sebagai jajaran qiyadah ditingkat wilayah .

Sejujurnya saya harus mengatakan bahwa kita selama ini :
1. Menjalankan tugas tugas kepemimpinan itu tampa banyak dibekali bagaimana caranya memimpin .
2. Secara bertahap kemudian kita tidak menyadari bahwa salah factor yang berpengaruh bagi tidak optimalnya performa kerja kolektif kita adalah lemahnya kapasitas kepemimpinan kita .
3. Dan seluruh upaya untuk meningkatkan kapasitas kepemimpian kita dijajaran qiyadah sering kali berbenturan dg sikap kita yang secara keliru menganggap diri kita sendiri sudah cukup memiliki kapasitas kepemimpinan .

Ikhwah dan akhwat fillah

Bukanlah sebuah kebetulan kalau kemudian Allah lebih banyak menceritakan kepemimpian Musa As. terhadap bangsa Bani Israel dibandingkan kisah kisah kepemimpinan yang lain . Dan kalau Allah juga di Al Quran menceritakan kisah perjuangan Ibrahim As , Yusuf As dan Sulaiman As maka dari ketiga pribadi ini kita juga banyak belajar soal kepemimpinan .

Ikhwah dan akhwat fillah

Seluruh studi studi kepemimpinan baik terhadap literature Islam maupun literature diluar Islam sampai pada sebuah kesimpulan bahwa apa yang dilakukan oleh para pemimpin besar yang sukses pasti meliputi 5 hal berikut :

1. Menunjukkan Keteladanan dan Karakter Pribadi : kebiasaan – integritas – kepercayaan – pemikiran
2. Menentukan Arah Perjuangan – Usaha – Kerja : visi – cita cita – harapan bersama
3. Membangun Kemampuan Organisasi : membangum personal – membangun tim dan mengelola perubahan
4. Memobilisasi Komitmen Orang Orang yang Dipimpinnya : melibatkan orang lain untuk bekerja dengan loyal

Ini bisa dimengerti karena sesungguhnya pemimpin itu memeiliki empat peran vital
1. Panutan : Ia harus menjadi contoh dalam seluruh totalitas kepribadiannya .Disini kita harus merujuk pada seluruh muwashofat kekaderan kita .
2. Perintis : Bersama –sama menentukan arah yang akan dituju.Wujudnya berupa Renstra dan RKT yang kita susun secara kolektif
3. Penyelaras : Menyusun dan mengelola sitem agar tetap apada arah yang telah ditetapkan .Pada bagian ini umumnya kita melakukan pekerjaan pekerjaan manajemen .
4. Pemberdaya : Memfokuska pada upaya peningkatan kapasitas dan kualitas orang orang yang dipimpinnya agar mampu melaksankan tugas tugas yang diembankan kepadanya .

Ikhwah dan akhwat fillah , demikianlah arahan yang sederhani ini , yg saya tujukan pertama tama untuk saya sendiri , dan setelah itu untuk kita bersama yang hadir maupun yang tidak hadir bersama kita hari ini .

Harapan saya , semoga kita mau menyediakan cukup waktu dan memiliki semangat yang tinggi untuk semakin bersungguh sungguh mengembangkan kapasitas kepemimpinan kita besama. Amiin

MOTIVASI UST.ARQOM

Ikhwah dan akhwat fillah seperti yang pernah saya sampaikan pada kesempatan ketika saya menyampaikan taujih di forum ini beberapa pekan yang lalu , bahwa peran seorang pemimpin itu ada 4 yaitu :
diminta
1. Panutan : Ia harus menjadi contoh dalam seluruh totalitas kepribadiannya .Disini kita harus merujuk pada seluruh muwashofat kekaderan kita .
2. Perintis : Bersama –sama menentukan arah yang akan dituju.Wujudnya berupa Renstra dan RKT yang kita susun secara kolektif
3. Penyelaras : Menyusun dan mengelola sitem agar tetap apada arah yang telah ditetapkan .Pada bagian ini umumnya kita melakukan pekerjaan pekerjaan manajemen .
4. Pemberdaya : Memfokuska pada upaya peningkatan kapasitas dan kualitas orang orang yang dipimpinnya agar mampu melaksankan tugas tugas yang diembankan kepadanya .

Nah mari kita fokuskan pada peran pemimpin yang keempat .Peran ini jika dijalankan punya dampak besar terhadap :
1. Meningkatnya mutu SDM yang kita pimpin
2. Sebagai akibat yang pertama maka akan meningkat pula mutu proses proses kerja SDM kita tersebut dalam unit – unit / bidang – bidang dimana mereka bertugas .
3. Jika itu terjadi akan memberi dampak pada semakin bermutunya kualitas keputusan keputusan yang kita ambil serta program program yang kita buat .
4. Tentu saja efek lanjutan dari itu semua kemudian berpengaruh pada besarnya dukungan yang dapat kita raih dari publik terhadap kita. Itu kemudian mewujud kedalam suara dan kursi yang bisa kira raih dalam pemilu nanti .

Logika berpikir seperti diatas jika saya gambarkan dalam sebuah skema menjadi seperti berikut :
pemimpin.gif

Ikhwah dan akhwat fillah.

Namun dari semua pihak yang harus diberdayakan dan dikembangkan oleh seorang pemimpin , maka memberdayakan dan mengembangkan pemimpin yang berada pada satu level dibawahnya , akan memberikan dampak yang lebih besar bagi organisai dakwah kita. Sebab kaidah yang berlaku didunia kepemimpinan adalah : Untuk menambah pertumbuhan , pimpinlah para pengikut , tetapi untuk melipatgandakan pertumbuhan pimpinlah para pemimpin

Ikhwah dan akhwat fillah cara bekerjanya kaidah ini adalah sebagai berikut : Pemimpin yang menegmbangkan pengikutnya secara langsung akan menumbuhkan organisasinya seorang demi seorang , akan tetapi pemimpin yang mengembangkan pemimpin lainnya – yang berada dalam tanggungjawabnya – akan melipatgandakan mereka , sebab untuk setiap pemimpin yang mereka kembangkan , mereka juga mendapatkan segalanya dari para pengikut pemimpin tersebut .

Secara skematis saya gambarkan seperti berikut ini :
PEMIMPIN YANG MENGEMBANGKAN PEMIMPIN
MELIPATGANDAKAN PERTUMBUHAN ORGANISASINYA

bagan_pimpin.gif

Dunia dimana organisasi dakwah kita ini bekerja terus beubah dari waktu ke waktu , maka kita pun secara personal mapun struktural  perlu terus menerus melakukan perubahan agar semakin bedaya dan berkinerja unggul .Walaupun sepenuhnya berbeda organisasi dakwah kita dengan organisasi bisnis , tetapi saya ingin mengutipkan pernyataan seorang praktisi bisnis , Jack Welch mantan presiden dan CEO General Electric : ” Jika tingkat perubahan diluar organisasi anda lebih cepat daripada tingkat perubahan didalam organisasi anda , ajal anda sudah didepan mata ”

Dan seorang pakar prilaku mengomentari pernyataan diatas dengan mengatakan : ”Prinsip ini juga berlaku bagi anda sebagai seorang manusia . Jika tidak senantiasa belajar dan membenahi keahlian anda , anda berada dalam bahaya terdepak dari peredaran ”

Nah bagaimana dengan kita ?  Bismillah mari kita mulai berbenah

USTAD aHMAD ARQOM

Saya tertarik menulis tema ini , setelah dalam bulan Januari ini saya membaca beberapa buku berikut : Tuhan Ingin Anda Kaya – Teologi Ilmu Ekonomi karya Paul Zane Pilzer  ; Re-Code karya Rheinald Kasali ,Ph.D ; Berwirausaha dari Nol karya Andreas Harefa ; dan 48 Hukum Kekuasaaan karya Robert Greene .

Gagasan “Kita Harus Semakin Ahli” saya sampaikan dalam halaqoh mingguan . Mulanya saya mengajak teman teman merenungkan firman Allah di surat 67 ayat : 15 berikut :

” Dialah Yang menjadikan bumi itu mudah bagi kamu, maka berjalanlah di segala penjurunya dan makanlah sebahagian dari rezki-Nya. Dan hanya kepada-Nya-lah kamu (kembali setelah) dibangkitkan.”

Nah coba renungkan berapa jumlah rezeki yang bisa kita cari ? Berapa besarnya kekayaan yang dapat dieksplorasi bangsa ini dari perut bumi Indonsia ?. Sebelum teman teman di halaqoh menjawabnya , saya terlebih dahulu menjawabnya sendiri dengan meminjam statement Paul Zane Pilzer yang mengatakan :

Pertama : tidak ada batasan atas banyaknya barang atau jassa yang dapat dihasilkan oleh sesorang yang memanfaatkan kemajuan teknologi sebagai hasil dari peningkatan spesialisasi .
Kedua  :Jumlah kekayaan masyarakat secara keseluruhan hanya dibatasi oleh jumlah orang yang tersedia untuk memperdagangkan produk keahlian mereka  . Masuk akal tidak ? Saya melanjutkan : ” Jika kita semua ber 7 adalah warga sebua desa X yang keahlian kita adalah menanam dan memanen singkong dengan biaya sediri seluruhnya , maka jumlah penghasilan kita seluruhnya adalah 7 x Rp. 750.000 = Rp. 5.250.000 ( uang sebesar Rp.750.000 ini meruapakan  pendapatan dari menanam dan memanem dan menjual singkong mentahan  ). Tetapi menjadi berbeda  jumlah pendapatan kita  ber 7 , manakala ada 1 orang diantara kita ber 7 yang mampu menyisihkan uang sebesar 250.000 dari Rp.750.000 penghasilannya , lalu digunakan untuk membeli mesin pengolah singkong , kemudian  membuat roti – donut  – kue dari singkong , , setelah itu menjualnya

Jadi jika kita semua para pekerja dakwah  menginginkan anugreah rezeki yang lebih banyak dari Allah  , yang disediakan – Nya di bumi ini, maka kita tidak boleh berkuallifikasi seperti kebanyakan masyarakat kita . Sedapat mungkin ita harus mendorong diri kita sendiri berubah menjadi seorang yang semakin ahli / semakin memiliki spesialisasi

TUNTUTAN PERUBAHAN

Perubahan menuntut adanya lima prasyarat  :
1.    Visi tentang arah masa depan (vision)
Ini menjelaskan kepada kita apa yang akan kita raih kedepan . Dalam konteks partai di Jatim visi itu adalah RENSTRA kita , dan dalam konteks kader ia adalah  akumulasi muwashofat kekaderan kita .

Ada hal yang menarik untuk saya tambahkan disini. Survey majalah SWA edisi Februari 2007 terhadap sejumlah perusahaan Indonesia yang melakukan perubahan  menjelaskan hala hal berikut ini :

a.    Perusahaan yang melakukan perubahan adalah perusahaan yang umumnya memiliki lebih dari 1000 karyawana
b.    Perusahaan yang melakukan perubahan adalah perusahaan yang umumnya memiliki aset lebih dari  1 trilyun
c.    Perusahaan yang melakukan perubahan adalah perusahaan yang umumnya memiliki omset lebih dari 1 trilyun
d.    Alasan perusahan perusahaan itu melakukan perubahan adalah
d.1.meningkatkan daya saing
d.2.merespon  permintaan pasar / masyarakat.
d.3.meningkatkan efisiensi

Nah mari ini kita jadikan pembanding buat kita . Bukankah kita adalah institusi yang memiliki lebih dari 1000 kader , aset yang bernilai lebih dari 1 trilyun ( andai satu kader kita , kita hargai 100 juta  , dan istitusi institusi kita , kita hargai juga 100 juta ) ;  dan bukankah kita butuh meningkatkan daya saing , perlu merespon tuntutan konstituen kita , sera perlu meningkatkan efisiensi kerja kolektif kita ?

2.    Keterampilan (skills) untuk mampu melakukan tuntutan-tuntutan baru. Keterampilan ini harus terus  ditumbuhkan ,dipelihara, dan dikembangkan

Secara kategoris  skill yang amat kita butuhkan  diantaranya adalah :
a.    Conceptual Skill
b.    Leadership Skill
c.    Managerial Skill
d.    Human Skill
e.    Practical Skill
f.    …….Skilll
Seluruh skill tersebut terasa amat mendesak untuk kita miliki karena obsesi politik kita  di 2009 nanti , amatlah mustahil kita raih kalau kita tampil dalam performa kolektif seperti yang sudah kita perlihatkan selama ini .

3.    Insentif yang memadai, baik langsung maupun tidak langsung, cash maupun non-cash, individual (berdasarkan kinerja perorangan) maupun kelompok-kelompok (berdasarkan kinerja kelompok/unit kerja)

Insentif / upah / gaji ……sesungguhnya  merupakan bentuk dan bukti pengakuan dan penghargaan kita atas kemajuan pencapaian visi kader maupun partai. Disini kemudian kita menjadi sadar sekali akan arti penting visi.

4.    Sumberdaya (resources) yang memudahkan ruang gerak dan pertumbuhan

Ini meliputi sumber daya manusia  – sumber daya alam – sumber daya modal – sumber daya konsep yang kita butuhkan untuk meraih / mewujudkan visi kita

5.    Rencana tindak (action plan). Rencana tindak adalah bukan sekedar rencana, melainkan sebuah rangkaian tindakan yang diintegrasikan dalam langkah-langkah yang spesifik dan terancam, tertulis dan dimengerti semua pelaku yang terlibat.

Sebuah Akronim Perubahan Bernama OCEAN
Sekarang mari kita lihat masing-masing unsur pembentukan sifat perubahan  :

OPENNESS TO EXPERIENCE
Keterbukaan pikiran, khususnya terhadap hal-hal baru, hal-hal yang dialami dan dilihat dengan mata sendiri.

CONSCIEN-TIOUSNESS
Keterbukaan hati dan telinga. Penuh kesadaran mendengarkan, baik yang terdengar, maupun yang tidak dirasakan.

EXTROVERSION
Keterbukaan diri terhadap orang lain, kebersamaan dan hubungan-hubungan.

AGREEABLENESS
Keterbukan terhadap kesepakatan (tidak mudah memilih konflik)

NEUROTICISM
Keterbukaan terhadap tekanan-tekanan.

Kelima komponen pembentukan kepribadian di atas, merupakan benih yang baik untuk melakukan perubahan.

TAUJIH USTAD JA’FAR

Segala puji hanya bagi Alloh, dimana saat ku-tulis risalah ini, Alloh SWT masih berkenan memberiku umur dan kesempatan untuk bertaubat dan beramal sholeh. Sungguh merupakan kenikmatan tak terkira, karena dijumpakan kembali dengan sepuluh hari terakhir di bulan Ramadhan yang penuh berkah. Nikmat tak terhingga, karena 6 hari lalu aku menjalani operasi hernia yang membuatku tegang dan ‘takut’. Tegang karena ini hal pertama dalam sejarah hidupku (dan semoga yang terakhir), dan ‘takut’ karena boleh jadi ini romadhon yang terakhir dan tak ada kesempatan lagi untuk menghirup udara dunia. Dan itu berarti tak ada kesempatan untuk bertaubat dan beramal sholeh lagi, juga kesempatan untuk memohon ma’af kepada sesama. Karena itu maafkanlah semua salah dan kekhilafan saya kepada ikhwah dan teman-teman semua. Alhamdulillah, berkat do’a dan support banyak ikhwah, teman-teman seperjuangan, operasi pada hari jum’at 28 September 2007M/16 Ramadhan 1428 H yang lalu, berjalan lancar dan sukses. Subhanalloh…

Saudaraku, meski Ramadhon sebentar lagi akan berlalu, RasuluLloh Shallallahu Alaihi wa Sallam memberi kabar gembira kepada kita semua, seperti dalam sabdanya, ”Orang yang berpuasa itu mempunyai dua macam kegembiraan yang dirasakannya, yaitu saat berbuka puasa dia bergembira dengan makanannya, dan jika bersua Rabb-nya dia bergembira dengan puasanya.” (HR.Bukhori-Muslim)
Kegembiraan orang yang berpuasa saat berbuka merupakan kegembiraan yang alami, karena dia mendapatkan ‘kebebasannya’ kembali dari apa yang tadinya dilarang menjadi diperbolehkan. Dia bergembira saat berbuka juga merupakan kegembiraan religius, karena dia mendapatkan Taufiq untuk melaksanakan kewajiban terhadab Rabb-nya. Firman Alloh,
Katakanlah: “Dengan kurnia Allah dan rahmat-Nya, hendaklah dengan itu mereka bergembira. Kurnia Allah dan rahmat-Nya itu adalah lebih baik dari apa yang mereka kumpulkan”. (Yunus: 58)
Bulan Ramadhon segera berlalu, entah sebagai saksi yang meringankan kita atau justru menjadi saksi yang memberatkan kita. Ramadhon berlalu dan akan menjadi pemberi syafaat bagi orang yang berpuasa dan qiyamul lail dengan baik, karena dorongan iman dan mencari keridhoan Alloh, sehingga dosa-dosanya yang lampau diampuni. Tapi bulan ramadhan juga akan menjadi saksi orang-orang yang berpuasa dan sholat malam tidak dengan cara yang baik, sehinga dari puasanya itu mereka hanya mendapatkan lapar dan dahaga, hanya mendapatkan letih dan kantuk dari sholat malamnya. Tentu saja kita semua berharap agar Ramadhan menjadi saksi bagi pahala kita, seperti halnya Al-Qur’an yang sama-sama akan memintakan syafaat bagi kita. RasuluLloh SAW bersabda, “Puasa dan Al-Qur’an akan memberi syafaat bagi hamba pada hari kiamat.” (HR.Ahmad)
Manusia bergembira dengan berlalunya hari dan bulan. Sementara mereka tidak menyadari bahwa dengan begitu umur mereka semakin tergerogoti dan berkurang. Al-Hasan berkata, ”Wahai anak Adam, sesungguhnya engkau adalah kumpulan hari-hari. Setiap kali satu hari berakhir, maka satu bagian dari dirimu juga ikut lenyap.”
Diantara manusia ada yang menghadapa Alloh hanya pada bulan Ramadhan saja. Sehingga jika bulan Ramadhan berakhir, maka berakhir pula hubungannya dengan Alloh. Diluar Ramadhan dia tidak lagi pergi ke masjid, tidak mau membuka al-Qur’an, tidak membasahi lidahnya dengan dzikir dan tasbih. Seakan-akan Alloh hanya layak disembah pada bulan Ramadhan saja, sementara pada bulan-bulan lain Dia tidak perlu disembah.
Barangsiapa yang ’menyembah’ bulan ramadhan, sesungguhnya bulan Ramadhan itu akan mati dan berlalu. Sementara Alloh SWT tidak pernah mati dan senantiasa hidup. Diantara orang salaf ada yang berkata,”Seburuk-buruk orang ialah yang tidak mengenal Alloh kecuali pada bulan Ramadhan. Maka jadikanlah diri anda seorang Rabbani, dan jangan menjadi Ramadhani.”
Jadilah Rabbani artinya jadilah anda bersama Alloh dan bertaqwalah kepada-Nya, dimanapun dan kapanpun. Janganlah menjadi Ramadhani, artinya janganlah Anda menghadap Alloh hanya pada bulan Ramadhan, dan setelah itu anda melupakan-Nya dan durhaka kepada-Nya.
Kemudian setelah Ramadhan kita disunnahkan untuk berpuasa enam hari dari bulan Syawal, agar manusia senantiasa dalam perjanjian dan pertautan dengan Alloh SWT. Keluar dari satu ibadah untuk masuk ke ibadah lainnya. Selesai satu ketaatan, dimulai lagi dengan ketaatan lainnya. RasuluLloh SAW bersabda, “Barangsiapa mengerjakan puasa Ramadhan, kemudian menyusulinya dengan puasa enam hari dari Syawal, maka itu seperti puasa setahun penuh.” (HR.Muslim)
Memasuki hari pertama bulan Syawal, seruan Takbir berkumandang di seluruh penjuru dunia. Yaa, Takbir untuk menyatakan bahwa Alloh lebih besar dari segala kekuatan yang ada di alam ini. Alloh lebih besar dari kesewenang-wenangan para penguasa yang dzalim dan dari kesombongan orang-orang yang sombong. Alloh lebih besar dari kepongahan orang-orang yang berduit dan memegang kekuasaan. Jika Anda melihat seorang tiran, lalu terlintas dalam pikiran anda untuk merundukkan kepala dan membungkukkan badan dihadapannya, segeralah ingat bahwa Alloh itu Maha Besar. Maka itu jika Anda melihat dunia seolah bersinar dihadapan anda, dan segala ’permainan’ dan kehidupan Anda condong kepada dunia itu, segeralah ingat bahwa Alloh Maha Besar dari dunia seisinya.
Alloohu Akbar, Alloohu Akbar, Alloohu Akbar walillaahi-Lhamdu.

Taujih

Bulan Suci  Ramadhan kembali datang menyambut orang-orang beriman untuk  menaiki tangga ketaqwaan dan meraih kemenangan. Kemenangan atas syahwat, syetan dan musuh-musuh Islam sehingga mengantarkan umat Islam meraih  keberkahan hidup di dunia dan kebahagiaan hidup di akhirat.

Marilah kita melakukan optimalisasi ibadah Ramadhan, sebagai berikut:

1.Memperkuat kerinduan dan kecintaan terhadap bulan suci Ramadhan dan rasa harap untuk dapat menikmati keutamaannya. Bentuk ekspresi kerinduan dan kecintaan dilakukan dengan mempersiapkan Ramadhan secara baik. Persiapan hati, persiapan akal dan persiapan fisik. Persiapan hati dengan memperbanyak ibadah, seperti memperbanyak membaca Al-Qur’an saum sunnah,  dzikir, do’a dan lain-lain. Persiapan akal dengan mendalami ilmu yang  terkait dengan ibadah Ramadhan, persiapan fisik dengan menjaga kesehatan, kebersihan rumah dan lingkungan serta menyiapkan harta yang halal untuk bekal ibadah Ramadhan.

2.Meningkatkan prestasi ibadah pada bulan Ramadhan tahun ini dari tahun lalu. Meningkatkan  kualitas tilawah, hafalan, pemahaman dan pengamalan Al-Qur’an.

3.Meningkatkan  kepekaan  dan kepedulian terhadap umat Islam. Membayar  zakat, memperbanyak  infak, shadaqah dan memberi makan orang berpuasa.  Menyantuni fakir miskin, anak-anak yatim dan duafa. Dan melakukan segala  bentuk ihsan yang dianjurkan Islam.

4.Mengutamakan ukhuwah Islamiyah dan persatuan umat Islam, khususnya dalam penentuan awal dan akhir Ramadhan. Ukhuwah Islamiyah dan persatuan umat Islam jauh lebih penting dari ibadah-ibadah sunnah dan perbedaan pendapat  tetapi menimbulkan perpecahan.

5.Menjadikan Ramadhan sebagai Syahrut Taubah (Bulan Taubat), dengan   memperbanyak istighfar dan taubah kepada Allah SWT. Mengakui kesalahan dan meminta ma’af kepada sesama manusia yang dizhaliminya serta mengembalikan hak-hak mereka dan membayar hutang.

6.Menjadikan bulan Ramadhan sebagai Syahrut Tarbiyah dan Syahrud da’wah (Bulan Pendidikan dan Da’wah). Kesempatan inilah yang harus dimanfaatkan  sebaik-baiknya oleh para da’i dan ulama untuk melakukan da’wah dan tarbiyah. Menyebarkan syiar Islam dan meramaikan masjid dengan aktifitas  ta’lim, kajian kitab, diskusi, ceramah dan lain-lain sampai terwujud  perubahan-perubahan yang esensial dan positif dalam berbagai bidang  kehidupan. Ramadhan bukan bulan istirahat yang menyebabkan mesin-mesin  kebaikan berhenti bekerja, tetapi momentum tahunan terbesar untuk segala jenis kebaikan.

7.Menjadikan bulan Ramadhan sebagai Syahrul Jihad wal Mujahadah. Jihad adalah puncak ajaran Islam, rahasia kemulian dan kejayaan umat Islam. Sedangkan landasan jihad adalah kesucian dan kebersihan jiwa. Oleh karenannya bulan Ramadhan adalah momentum yang sangat tepat untuk menumbuhkan ruhul jihad dalam tubuh umat Islam. Sejarah telah membuktikan bahwa bulan Ramadhan adalah bulan yang penuh dengan gerakan jihad. Perang  Badar Al-Kubra, Fathu Makkah, Pembebasan Palestina oleh Shalahuddin Al-Ayyubi, Perang Ain Jalut yang dapat menaklukkan tentara mongol, penaklukkan Andalusia oleh pahlawan Thariq bin Ziyaad, Kemerdekaan  Indonesia dan lain-lain semuanya terjadi pada bulan Ramadhan.

8.Mengambil keberkahan Ramadhan semaksimal mungkin, dari sisi ekonomi,  sosial, budaya, pemberdayaan umat dan politik. Melakukan aktifitas positif, seperti; bazar amal, membuka pasar-pasar alternatif, penggalangan dana, penumbuhan produk pribumi, peningkatan investasi sesama umat Islam dan  memunculkan kreatifitas di bidang  seni budaya. Memenangkan Partai Islam  dan para calon pemimpin muslim baik di legislatif maupun eksekutif yang berjuang untuk kemenangan Islam.[Dewan Syariah Pusat Partai Keadilan Sejahtera]

Older entries »